#beritalampung#beritabandarlampung#kopi#petani

Membangkitkan Kejayaan Kopi Lampung Dimulai dari Petani dan Pelaku Usaha Kopi

Membangkitkan Kejayaan Kopi Lampung Dimulai dari Petani dan Pelaku Usaha Kopi
Talk Show Sai100FM bertema Bangkitkan Kembali Kejayaan Kopi Lampung, Selasa, 4 Oktober 2022. Lampost.co/Andre Prasetyo Nugroho


Bandar Lampung (Lampost.co): Kopi dan Provinsi Lampung sangat lekat sekali, kejayaan kopi di Provinsi Lampung di masa lalu harus dikembalikan ke masa sekarang. Hal itu disampaikan oleh Head of Robusta Coffee Buying Station PT Sulotco Jaya Abadi, Moelyono Soesilo.

Ia menyampaikan formula yang tepat mandraguna untuk meningkatkan produktivitas kopi di Lampung diantaranya petani harus merawat kebun kopinya secara insentif, seperti menjaga kebersihan kebun dan memangkas cabang-cabang pohon kopi yang tidak menghasilkan buah. 

"Merawat secara insentif, kebersihan kebun. Cabang-cabang yang tidak menghasilkan buah lebih baik dibuang, lebih baik cabang sedikit tapi ada buahnya," katanya dalam Talk Show Sai100FM bertema Bangkitkan Kembali Kejayaan Kopi Lampung, Selasa, 4 Oktober 2022.

Baca juga: Kopi Lampung Begawi Jadi Ajang Pengembangan Potensi dan Kreativitas 

Selain itu, lanjut dia, kopi bukanlah tanaman yang sulit ditanam, petani itu mau terlibat langsung apalagi dengan kebunnya sendiri demi kebaikannya kopinya. 

"Kalau dia (petani) merawat dengan benar, itu dia akan dapat hasilnya cukup bagus. Sebenarnya mudah seperti pemakaian pupuk yang tepat kalau misal terpaksa memakai pestisida itu juga dengan takaran yang tepat," ujarnya. 

Ia mengkhawatirkan dengan harga kopi yang naik di beberapa bulan ini ada beberapa kedai yang mulai main di kualitas. "Ini yang bahaya. Kalau orang sudah kecewa (dengan kualitasnya) dan tidak bisa konsisten, tidak bisa menjaga cita rasanya, orang akan meninggalkan kedainya," jelasnya. 

Dia menerangkan pihaknya saat ini sedang menggaet petani muda dengan melakukan pendampingan dengan harapan meningkatkan produktivitas kopi di Lampung khususnya jenis robusta. 

"Kalau program ini berhasil produktivitasnya itu bisa meningkat dua kali lipat dan kita harapkan mungkin gerakannya secara kecil, tapi lebih efektif daripada kita secara besar-besaran tapi enggak efektif dan sasaran kita gagal," jelasnya. 

Sementara itu, peneliti kopi, Fahuri Wherlian Ali mengatakan kendala petani juga terkadang mempekerjakan petani dari kabupaten lain. Menurutnya kelompok tani sangat berperan untuk meningkatkan produktivitas kopi. 

"Akibatnya produktivitas juga rendah, petani punya korporasi punya kelompok tani. Beberapa kali saya sampaikan ke petani kenapa tidak kita berdayakan kawan-kawan petani dalam kelompok tani. Katakanlah dalam kelompok satu kelompok tani itu 20-25 orang dia bergantian lah panen untuk membantu," ujarnya. 

Menurutnya para petani kopi di Lampung sangat membutuhkan peran pemerintah dan juga instansi-instansi terkait. 

"Dan juga tentunya pihak-pihak swasta untuk kita sama-sama membangkitkan kembali kejayaan kopi di Lampung," katanya. 

Dalam kesempatan yang sama, salah satu barista, Adya Wigunawan bercerita awal ia terjun menjadi barista di tahun 2017, ia mengatakan pekerjaan barista tidak sebanyak saat ini. 

"Sekarang ini kedai kopi udah mulai menjamur gitu. Jadi teman-teman milenial melihat profesi barista itu kayak keren, wow gitu. Jadi banyak minat temen-temen milenial sekarang untuk jadi barista. Pengetahuan untuk tahu tentang kopi juga mulai banyak," katanya.

Ia meminta kepada para milenial saat ini untuk mengawali hari dengan segelas kopi, paling tidak menurutnya satu gelas kopi sehari. "Kita memulai hari ada baiknya kita itu harus minum kopi," pungkasnya.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait