#LestariMoerdijat#ProfesorMCRicklefs

MC Ricklefs: Pengakuan terhadap Perjuangan Ratu Kalinyamat

   MC Ricklefs: Pengakuan terhadap Perjuangan Ratu Kalinyamat
Profesor MC Ricklefs 1943-2019


Lestari Moerdijat Anggota DPR RI (Dapil II Jateng: Demak, Kudus, dan Jepara); Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL)

Lestari Moerdijat Anggota DPR RI (Dapil II Jateng: Demak, Kudus, dan Jepara); Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL)

BERITA duka telah kita dengar bersama. Sudah berpulang Profesor MC Ricklefs pada Minggu, 29 Desember 2019, pukul 10.30 waktu Melbourne, Australia, dalam usia 76 tahun (1943—2019). Sejarawan Indonesia pasti mengenal Prof Ricklefs (ahli sejarah Indonesia) berkewarganegaraan Australia yang terlahir di Amerika.

Kajian dan objek utama penelitiannya adalah mengenai sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan pengaruhnya pada kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Ricklefs banyak mengungkap aspek pergulatan masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan budaya pada masa 1600 hingga kini akibat masuknya pengaruh kebudayaan Islam dan Barat.

Karya besarnya menjadi sumbangsih luar biasa bagi dunia sejarah Indonesia. Bahkan, buku tulisannya menjadi rujukan utama berbagai penelitian mengenai perkembangan Islam di Jawa dan Indonesia.

Almarhum adalah sejarawan kontemporer Australia yang memiliki otoritas dalam sejarah Jawa (dan Indonesia), terutama pada periode 1600-an hingga 1900-an. Pada 2003, Pemerintah Australia memberikan kepadanya Centenary Medal atas pelayanan kepada masyarakat Australia dan humaniora dalam studi Indonesia. Ricklefs juga mendapat Anugerah Kebudayaan kategori Perorangan Asing 2016 dari Pemerintah RI.

Dalam kurun waktu setahun terakhir, kami, Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL), yang berkedudukan di Jepara, tengah menginisiasi kembali usaha agar Ratu Kalinyamat, tokoh perempuan pemimpin dari Jepara, mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Pemerintah Indonesia. Minimnya data primer yang menjadi rujukan serta kajian akademis yang terbatas menyebabkan beberapa usaha pengajuan oleh beberapa pihak terdahulu belum berhasil.

Oleh sebab itu, sebagai inisiator yang ingin kembali mengajukan permohonan tersebut, Tim Ahli YDBL melakukan telaah dan kajian akademis dengan sangat cermat agar dokumen pendukung yang disusun persyaratan. Dalam konteks inilah, nama Ricklefs terdengar berkali-kali dalam diskusi-diskusi yang dilakukan Tim Ahli YDBL.

Salah satu buku pentingnya, The History of Modern Indonesia since 1200, memuat dan mempertegas tentang keberadaan Ratu Kalinyamat di Jepara.

Ricklefs dalam bukunya menyebutkan keberadaan kota makmur Jepara dengan Ratu Kalinyamat sebagai penguasanya waktu itu. Pada halaman 44—45, dengan jelas tertulis, “Jepara merupakan kota pelabuhan penting lainnya saat itu. Pada awal 1513, penguasanya, yaitu Yunus, memimpin pasukan perang yang kabarnya terdiri dari 100 kapal dan 5.000 pasukan dari Jepara dan Palembang untuk menyerang Portugis di Malaka, meskipun dia akhirnya dikalahkan. Sekitar 1518 atau 1512, dia juga menjadi penguasa terhadap Demak. Namunpengaruh Jepara menjadi sangat besar pada tahun-tahun berikutnya pada abad ke-16 ketika Jepara berada di bawah kekuasaan dari seorang ratu yang bernama Ratu Kalinyamat. Pada tahun 1551Jepara membantu Johor dalam misi penyerangannya yang tidak begitu sukses terhadap Malaka dan kemudian pada 1574 Jepara kembali mengepung Malaka selama tiga bulan.” (terjemahan dari penulis).

Tokoh Kunci

Salah satu alasan penolakan terhadap pengajuan gelar pahlawan nasional bagi Ratu Kalinyamat pada waktu lalu (2008) adalah keberadaan Ratu Kalinyamat yang masih dipertanyakan. Karena itu, pernyataan Ricklefs itu sungguh sebuah kunci penting yang menjadi rujukan bagi tim ahli dan dapat diajukan sebagai argumen kuat bahwa pengaruh Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara pada pertengahan abad ke-16 adalah nyata.

Sebagai kota pelabuhan terpenting sejak awal abad itu, pengaruh Jepara menjadi semakin besar pada saat dipimpin oleh Ratu Kalinyamat. Karena itu, Ratu mampu membantu Johor dalam melawan Portugis di Malaka.

Tim Ahli YDBL yang terdiri dari Prof Dr Ratno Lukito (guru besar dari UIN Sunan Kalijaga), Dr Irwansyah (dosen Ilmu Komunikasi UI), Dr Alamasyah dan Dr Chusnul Inayati (sejarawan Undip), Dr Widia Nayati (arkeolog UGM), Dr Connie Rahakundini Bakrie (pakar maritim Unversitas Pertahanan Nasional), dan Bambang Sulistyanto (arkeolog BP4 Arkeologi Nasional Kemendibud) secara khusus menjadikan tulisan MC Ricklefs sebagai sumber untuk memperkuat kajian akademis yang tengah dilakukan dan menegaskan kembali pentingnya menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional.

Bahkan, dalam beberapa diskusi, tim ahli telah bersepakat berencana secara khusus menjalin pada waktunya nanti mengundang dan menghadirkan Ricklefs dalam seminar nasional Ratu Kalinyamat yang rencananya diadakan tahun depan. Tim berpandangan, Ricklefs adalah narasumber penting yang dapat memperkuat dan menunjukkan pengakuan keberadaan Ratu Kalinyamat dalam eksistensi sejarah perempuan Jawa di Indonesia.

Pernyataan Ricklefs dapat diajukan sebagai argumen bahwa pengaruh Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara adalah nyata.

Kini, gagasan itu pupus. Seminar yang direncanakan dengan angan-angan menghadirkannya sebagai pembicara utama tidak akan mungkin dilakukan.

Selamat jalan, Profesor MC Ricklefs. Doa kami menyertaimu. Karya-karyamu tidak akan hilang dan akan terus menjadi rujukan inspirasi tentang pentingnya sejarah dalam mengambil hikmah dari kehidupan masa lalu demi membangun kehidupan masa kini dan akan datang (Al-Muhafadzah ‘ala qadimissolih wal-ahdlu bil-jadidil aslah).

Dengan mengutip bukumu, izinkan kami, Yayasan Dharma Bakti Lestari, dan saya, Lestari Moerdijat, anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jepara, Kudus, dan Demak, bersama segenap komponen masyarakat Jepara akan terus berjuang mengabarkan kebesaran dan kepemimpinan Ratu Kalinyamat, perempuan dengan pemikiran yang melampaui zamannya.

 

EDITOR

Bambang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait