#BUNGAZIARAH#BANDARLAMPUNG

Mbah Satinah Jual Bunga Ziarah Selama 40 Tahun Lebih

Mbah Satinah Jual Bunga Ziarah Selama 40 Tahun Lebih
Foto : Lapak bunga Mbah Satinah. MTVL/ Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) — Mbah Satinah di usianya yang cukup renta masih semangat menjual bunga rajang atau yang kerap disebut dengan Kembang Setaman. Di lapak kecilnya yang terletak di Jl. Imam Bonjol, Kota Bandar Lampung atau tepatnya di depan Bambu Kuning Centre tangan mungilnya masih aktif merajang bunga tujuh rupa menggunakan gunting berwarna kuning. Sesekali lapaknya dikunjungi pembeli yang hendak melakukan ziarah kubur dengan menaburkan bunga di atas makam keluarga yang telah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta. 

Ziarah kubur sendiri lumrah dilakukan orang Indonesia pada awal bulan Ramadan serta beberapa hari menjelang hari raya Idulfitri. Kalau kata orang tua, tujuannya mendoakan saudara atau keluarga yang telah meninggal dunia supaya diberikan kedudukan atau posisi yang layak di sisi Tuhan. Mbah Satinah bercerita tentang 46 tahun pengalamannya berjualan Kembang Setaman. Ke rutan di matanya saat tersenyum masih terlihat walaupun mulut dan sebagian hidungnya tertutupi dengan masker kain berwarna biru. Sesekali Mbah Satinah membuka masker ketika para pengunjung tak mendengar perkataan yang, ia ucapkan secara lirih.

“Mbah dari tahun 1975 sudah jadi pedagang. Kalau sehari nggak ada yang beli itu nggak hanya sekali dua kali, sering. Tapi semuanya harus tetep disyukuri,” kata Mbah Satinah. Selasa, 11 Mei 2021. 

Mbah Satinah mengatakan pelanggan akan melonjak pada H-1 Ramadan dan H-3 Idulfitri, karena warga Indonasia masih banyak yang menjalankan tradisi ‘nyekar’ atau ziarah kubur.

“Kalau mau puasa, mau Lebaran ya ramai. Tapi kan dari tahun kemarin ada Corona jadinya agak sepi, katanya nggak boleh ziarah sama Pak wali kota kan yang Lebaran kemarin,” ujarnya.

Saat ini usia Mbah Satinah sudah hampir sama dengan usia kemerdekaan Indonesia, yakni 73 tahun. Ia yang sudah ditinggal pujaan hatinya (suami) sejak 9 tahun lalu, harus bertahan dengan tetap berjualan bunga di tepi jalan sejak matahari belum terbit hingga tengah hari.

“Mbah jualannya meruput (dini hari) ambil bunga yang utuh dulu, habis itu baru buka lapak sampai pukul 13.00 WIB. Apalagi sekarang bunga Melati susah, jadi diganti dengan Jasmine,” kata dia. 

Saat ini Mbah Satinah hanya bisa berharap dan berdoa kepada Tuhan agar keadaan menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Meskipun Ia mengatakan harapannya tahun lalu sudah dipatahkan karena keadaan pandemi tak cukup membaik.

“Saya ini kan hamba Tuhan, jadi ya kewajibannya berdoa kalau mau apa-apa. Kalau tahun lalu harapannya bangkit, ternyata tahun ini belum ya mungkin doanya kurang kencang,” kata dia sambil tersenyum. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait