#dbd#pandemicovid-19

Masyarakat Lamsel Diimbau Waspadai DBD di Tengah Pandemi Covid-19

Masyarakat Lamsel Diimbau Waspadai DBD di Tengah Pandemi Covid-19
Petugas UPTD Puskesmas Kecamatan Palas, Lampung Selatan saat melakukan fogging di Desa Palaspasemah, beberapa hari yang lalu. Lampost.co/Armansyah


Kalianda (Lampost.co) -- Masyarakat di Lampung Selatan diminta tetap waspada terhadap serangan demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19. Sebab, hingga saat ini kasus serangan nyamuk aedes aegypti masih terjadi dalam beberapa hari terakhir. 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Lampung Selatan Kristi Endrawati melalui Kasi P2PM Dinkes Lamsel, Didik Setiawan saat dihubungi Lampost.co, Minggu, 15 November 2020. Dia mengatakan meski di tengah pandemi Covid-19, masyarakat Lamsel tetap waspada terhadap serangan DBD. 

"Serangan nyamuk aedes aegypti ini tetap kita waspadai meski di tengah pandemi Covid-19. Soalnya, di Lamsel ini sepanjang Januari hingga Oktober sudah ada 416 kasus DBD," katanya. 

Menurut dia, sejauh ini kasus DBD tertinggi di Kecamatan Natar dengan 95 kasus, Jatiagung 60 kasus, Kalianda 50 kasus, Ketapang 38 kasus, Tanjungbintang 24 kasus. Sedangkan, kasus tertinggi hanya terjadi di Januari 2020.

"Memang selama pandemi Covid-19 ini, kasus DBD tidak begitu meningkat. Peningkatan kasus DBD hanya pada Januari 2020 lalu mencapai 86 kasus," ujarnya. 

Meski demikian, kata Didik, pihaknya tetap mengimbau masyarakat supaya terus waspada terhadap serangan DBD di tengah pandemi Covid-19. Apalagi saat ini terjadi perubahan musim, dari musim hujan ke musim panas. 

"Harus bisa jaga kebersihan lingkungan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Di musim pancaroba saat ini sangat rentan dengan berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk," ujarnya. 

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Kecamatan Palas, Rosmeli mengatakan pihaknya meminta masyarakat setempat proaktif dalam menjaga keberhasihan lingkungan dengan PSN. Apalagi dalam beberapa pekan terakhir sudah terjadi dua kasus DBD. 

"Pencegahan DBD ini paling efektif adalah proaktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Harus ada gerakan PSN dengan cara 3M, mengubur, menutup, dan menguras bak penampungan air. Minimal satu minggu sekali gotong royong," katanya. 

Rosmeli mengatakan di tengah pandemi Covid-19 kasus DBD masih saja terjadi, seperti di Desa Palaspasemah. Hingga saat ini kasus DBD dari Januari-November mencapai 31 kasus. 

"Desa Palaspasemah memiliki kasus DBD tertinggi dengan tujuh kasus disusul Desa Palasjaya. Untuk itu, dalam waktu dekat seluruh aparat di dua desa itu akan kami kumpulkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam kebersihan lingkungan," ujarnya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait