#Nasdem

Mari Bicara Harapan Hidup

Mari Bicara Harapan Hidup
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. Dok MI


DALAM perjalanan hidup manusia, umur bukanlah satu bahan percakapan yang menarik. Lebih khusus lagi bagi mereka yang sudah lanjut usia. Bicara umur amat sensitif karena kerap dikaitkaitkan dengan penyakit.

Kata komedian Julius Henry Marx, yang lebih dikenal sebagai Groucho Marx, “Age is not a particularly interesting subject. Anyone can get old. All you have to do is live long enough.” Jadi, mudah sekali sebenarnya untuk bertambah umur. Asal tidak cepat mati.

Namun, kehadiran Mahathir Mohamad di NasDem Tower dan di Rakernas NasDem di Jakarta Convention Center, kemarin, tetap menarik orang-orang, tak terkecuali manula, untuk membicarakan usia. Umur Tun Mahathir sudah 96 tahun, bahkan tiga pekan lagi 97 tahun.

Namun, Perdana Menteri ke-4 dan ke-7 Malaysia itu masih energik. Ia tak menggunakan bantuan tongkat untuk menopang tubuhnya. Mahathir masih kuat berdiri untuk berpidato lumayan lama. Pendengarannya juga sangat baik untuk orang seusianya. Mahathir juga masih sangat jernih dalam berpikir dan berbagi gagasan bernas tentang politik dan kepemimpinan.

Ia representasi negaranya, Malaysia, yang memiliki angka harapan hidup (AHH) yang terus membaik. AHH Malaysia ada di angka di atas 76 tahun. Berdasarkan hasil riset Khazanah Research Institute, rakyat Malaysia kini hidup lebih lama karena taraf kesehatan rakyat Malaysia secara keseluruhan telah meningkat jika dibandingkan dengan beberapa dekade lampau. Mahathir ialah salah satu tokoh kunci yang mengubah taraf hidup negeri jiran itu.

Adapun Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut terdapat tren peningkatan angka harapan hidup penduduk Indonesia. BPS mencatat rata-rata AHH penduduk Indonesia pada saat lahir selama 73,5 tahun, pada 2021.

Angka tersebut naik 0,1 poin dari tahun sebelumnya yang selama 73,4 tahun. Sementara itu, jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, kenaikan AHH penduduk Indonesia sebesar 0,6 poin dari 72,9 tahun pada 2017.

AHH merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. AHH yang rendah di suatu daerah menunjukkan program pembangunan kesehatan dan program sosial lainnya di wilayah tersebut belum maksimal.

Angka harapan hidup ialah indikator yang digunakan untuk menilai derajat kesehatan penduduk. Semakin tinggi angka harapan hidup, akan semakin lama rata-rata tahun hidup yang dijalani masyarakat.

Angka harapan hidup menjadi indikator global yang dinilai berdasarkan tiap-tiap negara. Dilansir dari United Nations Population Division, angka harapan ini sudah dicatat sejak 1950 sampai 2019 dan diproyeksikan hingga 2100.

Hong Kong merupakan negara dengan angka harapan hidup tertinggi, yakni 85,29 tahun. Disusul Jepang dengan AHH 85,03, lalu Makau dan Swiss di peringkat ketiga dengan 84,68 tahun. Di Asia Tenggara, Singapura memiliki rerata harapan hidup paling tinggi, yakni 84,07 tahun. Angka itu menempatkan Singapura di posisi keempat dunia.

Sementara itu, angka harapan hidup Indonesia, kendati meningkat, berada di peringkat 120-an dari 195 negara di dunia. Itu menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan hidup Indonesia butuh akselerasi. Indonesia perlu belajar ke negara-negara dengan AHH tinggi.

Hong Kong, negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia, misalnya. Faktor utama yang membuat angka harapan hidupnya tinggi ialah kualitas fasilitas kesehatan anak yang memadai. Faktor tersebut membawa Hong Kong sebagai negara dengan kematian bayi paling rendah di dunia atau perlu belajar dari Jepang. Faktor utama yang membuat harapan hidup Jepang tertinggi kedua di dunia ialah makanan. Makanan di ‘Negeri Matahari Terbit’ itu kaya akan buah, sayur, daging, dan ikan segar, serta biji-bijian. Selain itu, pemerintah juga memprioritaskan program kesehatan masyarakat, seperti program vaksinasi anak-anak. Jepang juga memiliki budaya untuk selalu aktif beraktivitas walaupun sudah berusia lanjut.

Memang, kurang enak membicarakan umur, tapi membicarakan bagaimana supaya panjang umur bukan saja menarik, melainkan amat penting. Apalagi, capaian harapan hidup Indonesia belum memuaskan. Jadi, soal umur dan strategi ‘memanjangkannya’ perlu terus-menerus dibicarakan dan diikhtiarkan.

Karena umur, yang tecermin dalam angka harapan hidup, ialah lambang kesejahteraan suatu bangsa.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait