#korupsi#beritalampung

Eks Kadis PUPR Lamsel Kongkalikong dengan Pemenang Proyek

Eks Kadis PUPR Lamsel Kongkalikong dengan Pemenang Proyek
Jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan lima saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) atas terdakwa Hermansyah Hamidi dan Syahroni. Lampost.co/Abu Umaraly


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan lima saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) atas terdakwa Hermansyah Hamidi dan Syahroni. Keduanya merupakan mantan Kepala Dinas PUPR Lamsel.

Kelimanya adalah Kasi Rehab Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Lamsel 2016 Adi Supriadi, Kasubbag Perencanaan PUPR Lamsel Desi Elmasari, dan ASN Dinas PUPR Lamsel, Kasi Pelaksana Bidang Tata Ruang Gunawan, Rahmi Veganita dan Saifudin.

Dalam keterangannya, saksi Gunawan menjelaskan pernah mendapat perintah mantan Kadis PUPR Lamsel Anjar Asmara untuk berkoordinasi dengan Syahroni soal dokumen penawaran para rekanan. Saat itu Syahroni menjabat sebagai Kabid Pengairan di PUPR Lamsel.

"Saya diperintahkan untuk membantu rekanan proyek dalam melengkapi dokumen penawaran perusahaan yang akan mengikuti lelang," kata dia di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang, Rabu, 10 Maret 2021.

Sementara saksi Rahmi mengatakan mendapatkan perintah Adi Supriadi untuk mencari rumah sebagai posko menginput seluruh perusahaan yang akan menjadi pemenang lelang.

"Saya bekerja bersama dengan rekan-rekan lainnya sebagai tim dalam posko ini. Memang seharusnya yang membuat adalah rekanan," katanya.

Dalam kegiatan itu, dia mendapatkan dana operasional yang diberikan Saifudin. "Kalau yang memberi perintah kegiatan ini saya tidak tahu, cuma kalau dari obrolan kawan-kawan lewat Syahroni," ujarnya.

Senada, saksi Saifudin mengungkapkan pernah mendapat perintah dari Adi selaku PPTK DAK 2016 untuk koordinasi dengan Syahroni soal dokumen rekanan pemenang lelang proyek. "Saya diberi nama dan nomor telepon rekanan pemilik perusahaan," ujarnya.

Saksi lalu menghubungi para rekanan satu per satu untuk melengkapi berkas penawaran lelang. "Saya telepon rekanan lalu saya sampaikan dari Syahroni terus rekanan langsung paham kalau kaitannya soal dokumen perusahaan," katanya.

Dia juga mengakui pernah menerima uang sebesar Rp30 juta dari Syahroni yang digunakan sebagai operasional.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait