#manokwari#papua#kerusuhan

Mak Susi Tersangka karena Bukti Hukum

Mak Susi Tersangka karena Bukti Hukum
Ilustrasi.Medcom.id/M Rizal


Jakarta (Lampost.co): Penetapan status tersangka terhadap Tri Susanti alias Mak Susi murni karena hukum. Penetapan tersangka terhadap eks calon legislator (caleg) Gerindra itu bukan atas dasar kepentingan tertentu.

"Siapa pun penyidik tidak akan pernah lepas dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 184 KUHP tentang alat bukti yang sah sesuai ketentuan," kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera dalam acara Primetime News Metro TV, Kamis, 29 Agustus 2019.

Menurut dia, ada tiga fakta yang merujuk kepada Tri Susanti. Kepolisian menyelidiki dengan teliti kasus ini. Sebanyak tujuh saksi ahli disiapkan untuk analisis perkara dalam video ujaran kebencian bernada rasialisme yang beredar di media sosial.

"Tujuh saksi ahli itu adalah ahli pidana, ahli bahasa, ahli ITE (informasi dan transaksi elektronik) dan ahli lainnya yang sudah kita periksa dan mintai keterangan setelah itu menyampaikan itu dalam berita acara," ujar Frans.

Pengujian video yang dilakukan para ahli dipastikan netral. Frans mengatakan ahli juga membedah pernyataan Tri berdasarkan fakta yang didapatkan.

"Inilah yang kami tuangkan dalam berita acara dan saksi ahli kita dalam rangka mengupas tentang keterlibatan Tri Susanti ini dalam konten yang kita sita dari media sosial," jelas Frans.

Selain terfokus kepada ahli, penyidik juga memeriksa 22 saksi dalam kasus ini. Dalam pernyataan saksi, semuanya merujuk kepada eks caleg partai Gerindra tersebut.

"Sehingga dari keterangan saksi dan ahli ditambah barang bukti yang sudah kita sita Polda Jatim melakukan gelar perkara dan berani nyatakan Tri Susanti sebagai tersangka," ujar Frans.

Polisi Jamin Mak Susi tak Kabur

Usai menetapkan Tri sebagai tersangka, kepolisian langsung mencegahnya bepergian ke luar negeri. Hal ini dilakukan agar Tri tidak melarikan diri saat keterangannya dibutuhkan kepolisian.

Polda Jawa Timur menetapkan Tri Susanti alias Mak Susi sebagai tersangka kasus rasialisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Dia menjadi koordinator lapangan (korlap) yang mendatangi Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Jalan Kalasan Surabaya, Jumat, 16 Agustus 2019.

Mak Susi menjabat sebagai wakil ketua Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI-POLRI (FKPPI). Dia bergabung sebagai anggota organisasi masyarakat (ormas) itu sejak 1989.

Dalam kasus tersebut, Mak Susi dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU 11 Tahun 2008 tentang ITE dan/atau Pasal 4 UU 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis dan/atau Pasal 160 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan/atau ayat 2 dan/atau Pasal 15 KUHP.

EDITOR

medcom.id

loading...


Berita Terkait



Komentar