#teroris#densus88

Sumber Dana JI Dipastikan dari Infak dan LAZ ABA

Sumber Dana JI Dipastikan dari Infak dan LAZ ABA
Tangkapan layar Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menyampaikan sumber pendanaan JI melalui sumber internal dan eksternal, Rabu, 17 November 2021. Dok Divhumas Polri


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Mabes Polri kembali memaparkan sumber Pendanaan Kelompok Jamaah Islamiyah (JI), yang anggotanya ditangkap oleh Densus 88 Antiteror Polri. Termasuk delapan orang berasal dari Lampung yang juga ditangkap.

Mabes Polri juga menyita ratusan kotak amal di Lampung dan mendalami adanya penggunaan lahan kebun kurma untuk pendanaan kelompok JI.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menyebutkan, sumber pendanaan JI, melalui sumber internal dan eksternal. Pendanaan internal berasal dari infak yang diberikan setiap bulan oleh anggota JI yang besarannya sekitar 2,5% dari pendapatan mereka.

Kemudian pendanaan eksternal yakni dengan mendirikan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Abdurahman Bin Auf (ABA) yang berkedok untuk pendanaan sosial dan pendidikan serta lainnya. Kini, izin LAZ ABA sudah dicabut oleh Kementerian Agama sejak Januari 2021.

"Ada sebagian (pendanaan eksternal) dana terkumpul untuk menggerakkan kelompok JI, sehingga sejak 2019 didapati dan adanya upaya penegakan (LAZ Aba dan JI) di Medan, Jakarta, Lampung, dan Sumatera Utara," kata Rusdi dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui media sosial Divhumas Polri, Rabu, 17 November 2021.

Dari pendalaman dan profiling oleh densus, maka tiga orang kembali ditangkap di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Mereka yakni Farid Okbah Anggota Dewan Syariah LAZ ABA, Akhmad Zain An Najah Ketua Dewan Syariah LAZ ABA, dan Anung Al Ahmad merupakan pendiri Perisai. Perisai yakni Badan Bantuan Hukum untuk anggota JI yang tertangkap, serta memberikan bantuan ke keluarga anggota JI.

Mabes Polri membantah adanya kriminalisasi terhadap pihak tertentu dari proses penangkapan Densus 88. Di sisi lain, Kepala Bagian Bantuan Operasi Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar, memaparkan tindakan densus memprioritaskan keamanan dan ketertiban masyarakat. Keterlibatan individu di JI menjadi bukti yang digunakan Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

"JI merupakan organisasi terlarang berdasarkan putusan pengadilan di Indonesia, dan secara international merupakan organisasi terlarang dalam resolusi PBB. Siapa pun yang beraktivitas dan berafiliasi dengan JI dan melalui proses pembuktian akan berhadapan dengan proses hukum," paparnya.

EDITOR

Wandi Barboy Silaban

loading...




Komentar


Berita Terkait