#refleksi#Covid-19Lampung#VarianDelta

Lubang Maut

Lubang Maut
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


SEJENAK berdoa, berkorban, dan bersabar menghadapi musibah yang disebabkan pandemi Covid-19. Sepekan ini, belasan teman sejawat pergi menghadapi Tuhan Yang Mahakuasa, pemilik kerajaan langit dan bumi. Mereka antara lain Hesma Eryani, Muhammad Islam, Nurcahaya, Poerwadi HA dan istri, Ahmad Nurdin, Azhari, serta puluhan sahabat lainnya.

Banyak cara Tuhan memanggil pulang hamba-Nya. Allah sangat sayang apalagi di saat virus corona mewabah. Adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar mengatakan ada tujuh kriteria mati syahid dalam agama Islam. Salah satunya, meninggal karena penyakit menular. Para ulama dan dokter bersepakat Covid-19 ini adalah penyakit yang sangat menular.

Dalam hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan An-Nasa`i; “Mati syahid ada tujuh macam selain berperang di jalan Allah; Orang meninggal dunia karena penyakit tha’un (wabah), lalu meninggal karena sakit perut, orang tenggelam, orang tertimpa benda keras, orang berpenyakit pleuritis, mati terbakar, serta wanita meninggal dunia karena melahirkan.”

Varian baru corona dari Wuhan, Tiongkok ini, menularnya sangat cepat dan masif. Tidak memandang jenis kelamin, usia, bangsa juga agama. Sudah saatnya minta disuntikkan vaksin, dan tetap menaati protokol kesehatan bagian dari ikhtiar menghadapi wabah. Jika tidak, penduduk dunia sedang menggali lubang maut–yang membahayakan diri sendiri juga orang lain.

Kabar yang tidak mengenakan datang dari Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. Mantan Menlu Ethiopia itu memberikan kabar peringatan bahwa dunia menghadapi tahap awal gelombang kematian akibat pandemi Covid-19.

Tedros berpidato di hadapan Komite Olimpiade Internasional di Tokyo, Kamis (22/7), mengingatkan lebih banyak lagi yang meninggal bahkan jumlah kematian dua kali lipat total dari tahun lalu. “Sekitar 19 bulan memasuki wabah, dan tujuh bulan vaksin pertama disetujui, kini kita berada pada tahap awal gelombang infeksi dan kematian lainnya. Ini tragis,” tegasnya.

Vaksin Covid-19, kata dia, terkonsentrasi di tangan segelintir orang yang beruntung dan dikerahkan untuk melindungi orang-orang paling istimewa di dunia. Namun mereka yang berisiko paling rendah terkena penyakit parah, dan paling rentan terpapar tetap tidak terlindungi.

Kata pejabat WHO itu, beberapa negara kaya saat ini berbicara vaksin penguat ketiga, sebuah kemajuan. Sementara petugas kesehatan, orang tua, dan kelompok rentan di seluruh dunia baru tersentuh vaksin. Mengerikan! Pandemi bisa dikendalikan jika vaksin dialokasikan lebih adil lagi.

Banyak ikhtiar dilakukan mengakhiri pandemi. Untuk Indonesia, selain vaksin, juga perpanjangan masa pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat  dan mikro. Kebijakan yang berasa mencekik rakyat kelas bawah, karena hari-hari mereka mencari makan. Bayangkan, jika tempat usahanya dibatasi. Betapa mumet menghadapi fenomena ini.

Dua masalah yang menghadang negeri ini. Pertama, upaya menghadapi keganasan Covid-19. Kedua, tetap menjaga ekonomi—dapur rumah tangga tetap mengebul. Sulit sekali bertarung di tengah wabah. Warga putus asa. Insiden kericuhan para pedagang dengan petugas PPKM adalah kode keras bahwa laparnya perut selalu mengalahkan ancaman virus corona.

Negara tidak bisa menutup mata betapa PPKM darurat yang diberlakukan selama dua pekan terakhir, dan di Bandar Lampung sepekan terakhir, telah memukul sebagian warga. Penolakan tidak mematuhi aturan pengetatan cenderung dilanggar dengan alasan lagi-lagi sulit mencari nafkah. Petugas yustisi terkadang menyerah menghadapi  warga yang menolak peraturan.

***

Dari kebijakan perpanjangan waktu PPKM darurat dan mikro – sudah saatnya rakyat menunggu gelontoran bantuan tunai, sembako, subsidi listrik, kuota internet. Tidak tanggung-tanggung, negara mengalokasikan dana tambahan untuk perlindungan sosial sebesar Rp55,21 triliun.

Semua diayomi negara. Pekerja menerima bantuan subsidi upah (BSU), sektor usaha mikro menerima Rp1,2 juta. Bagi warga berstatus orang tanpa gejala (OTG) mendapatkan paket obat gratis. Semua ingin sehat. Semua juga ingin bertahan agar bisa lolos dari ujian krisis ekonomi.

Lalu solusi apalagi yang ditawarkan yang terbaik saat ini? Selain PPKM juga banyak berdoa dan bersabar, karena anak bangsa mengalami kesedihan, kesulitan, dan ketidakberdayaan. Yang sehat membantu yang sedang sakit, yang muda membantu yang tua. Gotong royong dan berkolaborasi secara bersama akan mampu mengakhiri pandemi Covid-19.

Harus disadari, fakta dan data menunjukkan Indonesia mengalami ledakan kasus Covid-19. Rasio kematian harian terhadap tambahan jumlah kasus telah melampaui yang pernah dicatat India. Di tengah pemberlakukan PPKM darurat, negeri ini berada di peringkat episentrum Covid-19 dunia.

Jenazah pasien Covid-19 antre dimakamkan, fasilitas kesehatan, oksigen dalam keadaan kritis seiring meningkatnya kasus Covid-19. Rakyat yang terpapar di rumah sakit membutuhkan penanganan humanis. Warga yang berjualan di pasar juga ingin menyambung hidup memerlukan kenyamanan.

Dalam situasi mencekam dan menegangkan itu, berkaca dari kehidupan perwayangan Mahabrata. Pandawa menghadapi masalah mengobarkan rela berkorban serta bahu-membahu untuk kepentingan bangsa Amarta. Kesadaran entitas sebagai bangsa terhormat senantiasa terjaga dan dijaga.

Pandawa terdiri lima bersaudara memiliki watak dan karakter yang sangat  berbeda. Namun, ketika sang pemimpin–komandan, Puntadewa bertitah dari hasil musyawarah dan mufakatnya, maka seluruh saudaranya juga rakyat mendukung dengan sepenuh jiwa raga, hati yang ikhlas.

Pandawa menunjukkan sikap kesatria dan memelihara persatuan. Ketika menghadapi Kurawa yang ambisius menguasai takhta Astina, Pendawa merapatkan barisan menghadang lawan. Mengapa petinggi di negeri ini tidak seperti sikap yang ditunjukkan oleh Pandawa?

Bahkan, agama mengajarkan hidup bergotong royong , patuh kepada pemimpin! Contohnya? Banyak anggaran belanja di daerah tidak terserap, apalagi urusan dana penanganan Covid-19. Tidak bernyali! Bagaimana rakyat patuh dan ikut bersama-sama memerangi wabah corona ini.

Rakyat sangat membutuhkan panutan. Karena masyarakatlah berada di garda terdepan dalam memerangi wabah dengan protokol kesehatan dengan 6M. Yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi keramaian, mengurangi mobilitas, serta menghindari makan bersama.

Sedangkan tenaga kesehatan adalah benteng terakhir penanganan Covid-19. Jangan dibalik! Seperti Pandawa bekerja keras dan cerdas memenangi peperangan. Sehingga ia selalu bisa menyelesaikan masalah kemanusiaan–guna menutup lubang maut yang dikobarkan Kurawa. Lawan tanding tidak mencari keuntungan. Mereka hanya memikirkan nasib negaranya, tidak doyan mengisi kocek untuk pribadi dari musim perang. ***

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait