#RizieqShihab#FPI#KerumunanPetambunan

Lokasi 'Persembunyian' Rizieq Selama Terjerat Kasus Terungkap

Lokasi 'Persembunyian' Rizieq Selama Terjerat Kasus Terungkap
Muhamamad Rizieq Shihab saat tiba di Polda Metro Jaya, Sabtu, 12 Desember 2020. (MI/Andri Widiyanto)


Jakarta (Lampost.co) -- Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab membeberkan lokasi 'persembunyiannya' selama terjerat kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan. Namun, Rizieq membantah kabur.

"Saya selalu ada di Pesantren Agrokultural markas syariat, saya tidak ke mana-mana. Itu tempat tinggal saya," kata Rizieq di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu, 12 Desember 2020.

Rizieq juga mengaku terkadang pergi ke Petamburan, Jakarta Pusat, dan Sentul, Bogor, Jawa Barat. Kepergian Rizieq selama ini diklaim hanya untuk menengok anak dan cucunya.

"Sekali-kali turun ke Petamburan, Sentul untuk menengok anak dan cucu," ujar Rizieq.

Rizieq mendatangi Polda Metro Jaya. Pentolan FPI itu untuk menyerahkan diri usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan.

Rizieq ditetapkan sebagai tersangka kasus pelanggaran protokol kesehatan usai menggelar acara akad nikah putrinya di Petamburan, Jakarta Pusat. Polisi juga menetapkan lima tersangka lain.

Lima tersangka lainnya, yakni Ketua Pantia Akad Nikah, Haris Ubaidillah; Sektretaris Panitia, Ali Bin Alwi Alatas; Penanggung Jawab bidang Keamanan, Maman Suryadi; Penanggung Jawab Acara, Sobri Lubis; dan Kepala Seksi Acara, Idrus.

Akad nikah anak Rizieq dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan pada Sabtu, 14 November 2020, kedapatan melanggar protokol kesehatan. Kegiatan itu ramai didatangi pengikut Rizieq. Banyak jemaah yang berkerumun, tidak menjaga jarak, dan berpotensi meningkatkan penyebaran covid-19.

Sejumlah peserta juga tidak menggunakan masker. Banyak pula peserta acara menggunakan masker tak sesuai ketentuan, seperti digunakan di bawah dagu. Alhasil, klaster baru penyebaran covid-19 muncul di lokasi tersebut.

Polisi menyatakan ada unsur pidana dalam pelanggaran protokol kesehatan tersebut. Para tersangka dikenakan Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan dengan ancaman kurungan satu tahun atau denda Rp100 juta.

Lalu, ada pelanggaran Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan untuk Melakukan Kekerasan dan Tidak Menuruti Ketentuan Undang-Undang dengan ancaman enam tahun penjara atau denda Rp4.500. Selain itu, ada pelanggaran Pasal 216 ayat 1 KUHP tentang Menghalang-halangi Ketentuan Undang-Undang dengan ancaman pidana penjara empat bulan dua minggu atau denda Rp9.000.

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait