#pencemaran#limbah

Limbah Mirip Oli Bunuh Mata Pencaharian Nelayan Pesisir Panjang

Limbah Mirip Oli Bunuh Mata Pencaharian Nelayan Pesisir Panjang
Warga pesisir Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, tetap beraktifitas meski ada limbah mirip oli yang mencemari perairan. Lampost.co/Umar Robani


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Seperti biasanya, Pardjio, nelayan Rawa Laut, Panjang Selatan, sudah mulai beraktivitas sejak pukul 03.00 dini hari. Sebab, jam segitulah cumi di sekitar pesisir Kecamatan Panjang itu mudah ditangkap.


Pria berusia 59 tahun itu, biasa menangkap 2-4 kilogram cumi setiap hari. Bergantung dengan cuaca, bahkan ketika sedang musim, dirinya bisa mendapatkan cumi hingga 16 kilogram.

Baca juga: Pemerintah Diminta Usut Pencemaran Limbah di Laut Pesisir Panjang

Pencariannya tak pernah jauh dari daratan, hanya 1-2 kilometer saja. Menurutnya warga memang tak pernah jauh jauh-jauh mencari cumi dan ikan-ikan kecil.

Namun, kondisi berbeda dirasakan sejak sekitar 6 hari yang lalu. Gumpalan hitam mirip limbah oli nampak mencemari perairan tempat biasa warga mencari rejeki.

"Bergumpal-gumpal hitam, yang ada sampahnya lebih parah lagi," tuturnya.

Lokasinya langsung berdekatan dengan dermaga milik PT Pertamina. Bahkan menurut Pardjio, setiap hari selalu ada kapal minyak bersandar di dermaga itu.

"Waktu malam saya mau mancing, sudah ada limbah oli atau apa ini gak tau pokoknya hitam semua dari dermaga larinya ke pinggir jadinya saya pulang gak nyari ikan lagi," kata dia.

Ia sempat tetap yakin untuk mencari buruan. Namun, pencarian cumi yang dilakukan tak mendapatkan hasil seperti biasa. "Karena limbah ini gak ada ikannya, penyu juga ada yang mati di sini," ungkapnya.

Pengalaman sama pun dirasakan Amin Selamet yang tinggal hanya beberapa langkah saja dari tepi pantai.

Pada Minggu, 6 Maret 2022 dini hari lalu, seperti biasa yang menebar jaring sekitar 1 kilometer dari daratan. Langit masih dalam kondisi gelap membuat pandangan pria berusia 73 tahun itu terbatas.

Ia mulai memfokuskan pandangan ke permukaan sekitar sampannya setelah 1 jam menaik-turunkan jaring tanpa hasil. Amin melihat gumpalan hitam tidak jauh dari perahu yang ditumpangi.

"Waktu itu masih gelap, jadi gak keliatan bener, Tapi sebadan-badan hitam kena limbah," ujarnya menceritakan cairan dari cipratan ombak yang mengenai perahunya juga menempel pada pakaian hingga wajahnya.

Seperti yang dialami Pardjio, Amin pun harus pulang tanpa membawa hasil dan kehilangan penghasilan akibat limbah yang mencemari wilayah tersebut.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait