#pencemaran#limbah

Limbah Aspal Belum Terdeteksi di Hutan Mangrove

Limbah Aspal Belum Terdeteksi di Hutan Mangrove
Seorang warga menunjukan limbah hitam yang mencemari Pantai Sebalang, Lampung Selatan. Lampost.co/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dinas Kehutanan Provinsi Lampung menyatakan dampak limbah hitam pekat  diduga aspal yang mencemari daerah perairan Lampung, belum terdeteksi di hutan mangrove.

"Hutan mangrove atau hutan lingdung ini bukan semua kebijakan Dishut, namun ada beberapa daerah yang diawasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)," kata Kepala Dishut Provinsi Lampung, Yayan Ruchyansyah, Selasa, 28 September 2021.

Baca juga: Limbah Aspal Rusak Pantai Wisata Lampung

Meski limbah tersebut diketahui telah mencemari garis pantai di sejumlah kabupaten, mulai dari Tanggamus, Pesawaran, Bandar Lampung hingga Lampung Selatan, Dishut Provinsi lampung belum mendapatkan laporan terkait dengan adanya pencemaran limbah.

"Dari laoran yang kami terima, limbah ada di pinggir pantai, seperti di pantai Taman Nasional Bukit Barisan (TNWK), tapi untuk kawasan mangrove belum ada," jelasnya.

Ia memaparkan, luas hutan mangrove yang ada di Provinsi Lampung mencapai 12.183,65 hektare, dimana terbagi di sejumlah daerah.

"Hutan mangrove yang tersebar ada di 8 kabupaten/kota diantaranya Kabupaten Mesuji, Tulangbawang, Lampung Timur Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, dan Pesisir Barat," jelasnya.

Menurutnya, hutan mangrove yang didominasi oleh akar, jika terpapar limbah akan mengakibatkan limbah tersebut menempel seperti minyak.

"Yang dikhawatirkan justru limbah aspal ini tenggelam. Maka ketika tenggelam itu dia justru mengganggu perakaran dari mangrove, dan ini berakibat mematikan tumbuhannya," jelasnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait