#atlet#olahraga#olimpiade

Lika-liku Citra Febrianti Harumkan Indonesia lewat Angkat Besi

Lika-liku Citra Febrianti Harumkan Indonesia lewat Angkat Besi
Mantan atlet angkat besi Citra Febrianti saat ditemui di Mahan Agung, Jumat, 4 Juni 2021. Lampost.co/Atika Oktaria


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perjuangan Citra Febrianti demi memperoleh haknya sebagai peraih medali perak cabang olahraga angkat besi pada Olimpiade London 2012 sangatlah panjang dan berliku.

Citra yang turun di kelas 53 kilogram sebelumnya hanya menempati peringkat empat, berada di bawah Zulfiya Chinshanlo dari Kazakhstan, Hsu Shu-ching (Taiwan), dan Christina Lovu (Moldova).

"Pada 2016, Zulfiya Chinshanlo dan Christina Lovu terbukti menggunakan doping sehingga membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) mencabut medali emas Zulfiya Chinsanlo dan medali perunggu Christina Lovu," jelasnya saat ditemui di Mahan Agung, Jumat, 4 Juni 2021. 

Baca: Gubernur Serahkan Bonus Rp100 Juta kepada Citra Febrianti

 

Meski demikian, keputusan tersebut ternyata tidak langsung membuat Citra Febrianti ditetapkan sebagai peraih medali perak oleh IOC.

Citra kemudian berinisiatif menghubungi Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) , Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) hingga Komite Olimpiade Indonesia (NOC).

Setelah delapan tahun berjuang, akhirnya IOC mengirimkan surat pada 19 November 2020 yang berisi pernyataan resmi menetapkan Citra sebagai peraih medali perak Olimpiade London 2012.

"Waktu pertama kali mau berangkat kejuaraan itu ada kendala dan dicekal DAN tidak boleh bertanding karena di tahun 2012 kuota untuk wanita hanya satu. Tapi setelah adanya prestasi  masih bisa masuk," jelasnya. 

Atlet asal Pringsewu, Lampung itu menceritakan harus melewati seleksi di Bali untuk dapat tiket perempuan sedangkan laki-laki sebanyak lima peserta.

"Sampai di London, saya masih tetap dipermasalahkan. Alhamdulillah saat pertandingan saya dapat mengangkat semaksimal mungkin dengan total angkatan 206 kilogram dan peroleh peringkat ke empat," katanya.

Setelah melewati perjalanan tersebut, Citra mendapatkan informasi naik ke peringkat ketiga namun tidak ada kabar lebih lanjut hingga 2016. Citra baru mendapat kabar naik peringkat di tahun 2020.

"Saya nekat menanyakan nasib prestasi saya karena kehidupan seperti saat ini cukup sulit. Saya sudah pensiun dari atlet dan saya alami cedera ditambah masa pandemi ini cukup kesulitan dalam masalah ekonomi," jelasnya. 

Menurut wanita yang kini mengemban tugas di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Lampung ini mengatakan untuk bisa mendapatkan prestasi itu tidak mudah seperti yang dilihat orang.

"Bisa sampai titik ini sangat susah, susah sekali. Butuh perjuangan yang sangat sulit," katanya.

Ia menceritakan, saat di Jakarta ia tak mendapat kepastian karena tidak ada pihak yang membantu.

"Sudah minta bantuan juga jadi saya nekat sendiri ke PB dan bilang masih dilaporkan. Saya nekat ke Komite Olahraga Indonedia (KOI) dan ketahuan bahwa belum ada laporan. Setelah diterima KOI hanya dua minggu keluar hasil bahwa saya naik peringkat," paparnya.

Usat pensiun sebagai atlet, Citra fokus menempuh pengobatan cidera yang dialaminya.

"Cidera ini saya peroleh dari latihan intens saat menjadi atlet demi membela negara dan daerah saya," jelasnya. 

Ia berpesan, untuk kaum muda tetap semangat dan berjuang tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi daerah dan negara jadi tetap berjuang dan jangan menggunakan doping. 

"Kalau mau sukses kuncinya harus semangat dan berjuang. Selain itu juga hindari narkoba untuk memberikan nilai positif untuk diri sendiri," tutupnya.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait