#GAK#erupsi

Letusan Gunung Anak Krakatau Fluktuatif

Letusan Gunung Anak Krakatau Fluktuatif
Letusan gunung anak krakatau turun dibandingkan Selasa, 31 Desember 2019 kemarin.


Kalianda (Lampost.co) -- Pasca Gunung Anak Krakatau (GAK) Gunung Anak Krakatau (GAK)  erupsi Minggu,  29 Desember 2019, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ada penurunan jumlah letusan pada Rabu, 1 Desember 2019.

Seperti yang disampaikan Andi Suardi Kepala Pos Pantau GAK di Desa Hargopancuran kecamatan Rajabasa,  Lampung Selatan. Andi mengatakan bahwa jumlah letusannya  menurun dibandingkan pada Selasa,  31 Desember 2019 kemarin.   

"Letusan turun tapi fluktuatif.  Kita lihat data tren lerusannya juga low frekuensi, " kata Andi kepada lampost.co,  Rabu,  1 Januari 2020.

Ia pun menyebutkan penurunan jumlah letusan Gunung Anak Krakatau sejak kemarin hingga hari ini."Kemarin 18 kali letusan dan sekarang ini ada 9 kali," kata Andi

Berdasarkan laporan aktivitas gunung api anak krakatau periode pengamatan 1 Januari 2020, kondisi cuaca gunung api setinggi 157 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut cerah, berawan, mendung dan hujan ringan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, dan barat daya dengan suhu udara 25.6-29.7 °C dan kelembaban udara 43-55 %.

Secara visual gunung terlihat jelas hingga kabut 0-III dengan asap kawah teramati putih kelabu tebal tinggi 500-1000 meter dari puncak kawah dengan disertai letusan sebanyak 8 kali dan  amplitudo : 27-45 mm, dengan durasi : 35-93 detik.

Diikuti 8 kali hembusan dengan amplitudo : 3-38 mm dan durasi : 7-109 detik.  Sedangkan gempa Tremor Harmonik hanya 1 kali dengan amplitudo : 10 mm, dan durasi : 26 detik.

Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-30 mm (dominan 15 mm) dengan ? Low Frekuensi.

Sementara sehari sebelumnya, asap kawah teramati berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal setinggi 200-2000 meter dari atas puncak kawah yang disertai letusan sebanyak 18 kali dengan amplitudo : 41-55 mm, dan durasi : 36-3770 detik.

Diikuti 4 kali hembusan dengan amplitudo : 9-44 mm, dan durasi : 32-55 detik.  Semsntara gempa
Tremor Harmonik sebanyak 1 kali dengan amplitudo : 27 mm, dan durasi : 62 detik disertai Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 3-55 mm (dominan 25 mm).

"Walau ada letusan namun tidak terdengar suara dentuman," kata Andi Suardi.

Sampai saat ini aktivitas gunung yang berada diperairan selat sunda tersebut masih Waspada (Level II). Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan kepada  masyarakat nelayan maupun wisatawan tidak diperbolehkan mendekati  dalam radius 2 km dari gunung tersebut.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait