#ekonomi#BI

LCS Indonesia dengan Tiongkok Dinilai Saling Menguntungkan

LCS Indonesia dengan Tiongkok Dinilai Saling Menguntungkan
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Bank Indonesia (BI) dan People's Bank of China (PBC) secara resmi memulai implementasi kerjasama penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal atau Local Currency Settement (LCS) antara Indonesia dan Tiongkok. Penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung atau direct quotation dan relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valuta asing antara mata uang rupiah dan dolar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan menyampaikan ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan adanya transaksi perdagangan Indonesia dan Tiongkok menggunakan mata uang lokal atau LCS. Keuntungan tersebut diantaranya nasabah dapat membuka rekening mata uang lokal mitra di Indonesia.

"Kemudian nasabah dapat membeli mata uang lokal mitra di Indonesia (spot, forward, swab) baik untuk pemenuhan kebutuhan segera yang didukung ubderlying transaksi berupa kegiatan ekonomi riil (trade, income transfer, direct investment)," kata Budi kepada Lampost, Selasa, 7 September 2021.

Selanjutnya nasabah dapat melakukan remitansi dalam mata uang lokal untuk penerimaan atau pengiriman gaji atau pendapatan. Nasabah dapat peroleh financing dalam mata uang lokal mitra di Indonesia untuk kebutuhan setelmen ke negara mitra.

"Lalu eksportir dapat melakukan investasi portofolio dalam mata uang lokal mitra atas proceed ekspor/investasi yang diperoleh dalam mata uang lokal mitra. Kemudian direct quotation dan biaya hedging yang relatif rendah berpotensi mendukung peningkatan efisiensi transaksi," katanya.

Sementara itu untuk keuntungan yang didapatkan oleh pemerintah. Budiharto menjelaskan bisa mengurangi ketergantungan terhadap mata uang USD (dolar amerika) untu setelmen trade dan direct investment. Kemudian efisiensi biaya transaksi valas.

"Keuntungan lainya seperti diversifikasi eksposur mata uang non USD serta pengembangan dan pendalaman pasar mata uang non USD," katanya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait