#lobster#perikanan#beritalampung

Lampung Terus Kembangkan Potensi Lobster dan Perikanan Terpadu

( kata)
Lampung Terus Kembangkan Potensi Lobster dan Perikanan Terpadu
Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi. Foto: Dok


Bandar Lampung (Lampost.co): Pemerintah Provinsi Lampung terus mengembangkan potensi kelautan dan perikanan untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi inklusif secara berkelanjutan menuju Provinsi Lampung yang maju, sejahtera, dan mandiri. Apalagi pasar utama komoditas perikanan dari Lampung meliputi negara Amerika, Eropa, Asia Tenggara, Jepang, dan Thailand. 

Berdasarkan nilai ekspor hasil perikanan di Provinsi Lampung pada semester I di tahun 2020 ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan semester I pada tahun 2019. Untuk volume, di tahun 2019 sebesar 7.194.276 ton sedangkan tahun 2020 menjadi 8.770.372 ton mengalami kenaikan sebesar 21,9 persen. Sementara untuk frekuensi pada tahun 2019 sebesar 668 ton dan tahun 2020 menjadi 704 ton, mengalami kenaikan sebeaar 5,4 persen.

Jika di rupiahkan maka pada tahun 2019 sebesar 985,8 triliun dan pada tahun 2020 menjadi 1.045 triliun mengalami kenaikan 6 persen. Pasar utama komoditas perikanan dari Lampung meliputi negara Amerika, Eropa, Asia Tenggara, Jepang dan Thailand. Sementara untuk komoditas utama yang diekspor meliputi udang, cumi-cumi, ikan kerapu, rumput. Sedangkan untuk hasil ikan tawar dikirim ke berbagai provinsi di Nusantara.

"Kita terus bersama-sama mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan yang ada di Provinsi Lampung," kata Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, Selasa, 1 September 2020.

Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Rokhmin Dahuri, siap membantu Pemerintah Provinsi Lampung menyusun blueprint pembangunan dan business plan. Kemudian membantu realisasikan program quick wins KP di Provinsi Lampung.

Lalu meningkatkan alokasi program (proyek) APBN KKP dan kementerian terkait lainnya. Serta meningkatkan investasi dan bisnis KP dari investor lokal, nasional maupun global di Lampung.

"Kita membuat model kawasan industri perikanan terpadu yakni industri pengelolaan, sarana produksi, perumahan nelayan dan pembudidaya, lembaga ekonomi, dan pelabuhan," katanya.

Pengembangan tambak udang vaname berbasis kluster milenial di Pesisir Barat (4 unit), Pesawaran (2 unit), Tanggamus (2 unit), Bandar Lampung (2 unit), Lampung Selatan (2 unit), Tulangbawang (2 unit), Lampung Timur (2 unit), dan Mesuji (2 unit); revitalisasi tambak ydang bekas PT Dipasena dan PT CPB; pengembangan industri rumput laut terpadu; pengembangan budidaya di PUD ikan nila, patin, lele, udang galah, dan sebagainya.

Selanjutnya, pengembangan budidaya lobster terpadu dan ekspor terbatas; pengembangan industri perikanan tangkap terpadu di Bengkunat dengan pembiayaan soft loan Bank Exim Korsel; pengembangan industri perikanan budidaya terpadu, seperti model kerja sama Evergreen Co dengan Pemerintah Mesir.

Kemudian model bisnis pengembangan industri rumput laut terintegrasi. Rumput laut merupakan lahan potensi besar, produsen rumput laut nomor satu di dunia, teknologi budidaya mudah dan murah serta masa panen cepat yakni 45 hari. Teknologi pengolahan ATC yang sederhana sangat memungkinkan dilakukan di tingkat kabupaten/kota, bahkan di wilayah desa tertinggal.

Potensi ekspor rumput laut dibutuhkan olen negara Tiongkok, Korea, Amerika, Filipina, Hongkong, dan Spanyol. Hampir 90% rumput laut yang diekspor tanpa diolah. Skala ekonomi tingkat pembudidaya rumput laut dengan pendapatan 3,5-4 juta per bulan, produksi minimal 8 ton per tahun, luas budidaya 0,5 hektare, dengan kebutuhan bahan baku 1.500 ton per tahun, kebutuhan tenaga kerja 188 orang, biaya investasi 17,5-20 juta per orang. Analisis finansial pabrik pengolahan ACT yakni kapasitas produksi 5 ton per hari, jumlah produksi ATC 450-500 ton per hari, kebutuhan investasi Rp14,75 miliar, kebutuhan modal kerja Rp4,25 miliar, dan penerimaan Rp20,47 miliar per tahun.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait