#eksporimpor#ekonomilampung#beritalampung

Lampung Ekspor Rempah-Rempah Rp1,02 Triliun Selama 2021

Lampung Ekspor Rempah-Rempah Rp1,02 Triliun Selama 2021
Bimbingan Teknis Ekspor Rempah-rempah di Kecamatan Sribawono, Lampung Timur, Kamis, 4 Agustus 2022. Istimewa


Bandar Lampung – Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung mencatat terdapat ekspor rempah-rempah senilai Rp1,02 triliun sepanjang 2021 lalu. Komoditas pertanian yang diperdagangkan tersebut diantaranya lada biji, kayu manis, cengkeh, cabai jamu, bunga pala, lengkuas, pala biji, jahe, kunyit, dan asam keranji.

Jenis rempah-rempah asal Lampung itu diekspor ke berbagai negara diantaranya Tiongkok, Vietnam, Prancis, India, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Thailand, Hong kong, dan Uni Emirat Arab.

Sub Koordinator Karantina Tumbuhan, Balai Karatina Pertanian Lampung, Irsan Nuhantoro, menjelaskan pihaknya tengah fokus mendorong komoditas rempah-rempah unggulan Lampung untuk diekspor ke mancanegara.

Berdasarkan data yang dihimpun Indonesia Quarantine Full Automation System (Iqfast) Badan Karantina pertanian, volume ekspor 2021 menurun 33,9% dibandingkan 2020 yang semula 28.333 ton menjadi 18.727 ton. Kendati menurun, nilai ekonomis komoditas itu stabil dinilai Rp1,025 triliun pada 2020 dan Rp1,020 triliun pada 2021.

“Selain volumenya, peningkatan jumlah negara tujuan juga terus diupayakan agar capaian ekspor sesuai program gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks),” kata Irsan, saat Bimbingan Teknis Ekspor Rempah-rempah di Kecamatan Sribawono, Lampung Timur, Kamis, 4 Agustus 2022.

Dia menilai terdapat 28 jenis rempah-rempah di Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu komoditas ekspor yang diandalkan.

Kasubag TU Karantina Lampung, Suparmin, menjelaskan peningkatan ekspor diupayakan dengan mempercepat layanan di pelabuhan dan pendampingan bagi petani agar menjadi eksportir.

“Kami dampingi agar produk pertanian yang diekspor dapat terjamin sehat, aman, dan sesuai persyaratan di negara tujuan,” ujarnya.

Sementara, salah satu eksportir Lampung, Hotmaida S. Dameria, mengatakan potensi besar pertanian harus dioptimalkan dengan menjualnya ke pasar internasional. Namun, untuk mewujudkan itu pengekspor harus mengikuti standar internasional.

Hal itu mulai dengan mengubah kebiasaan untuk tidak lagi menggunakan pestisida, seperti pada tanaman lada.

“Eropa dan Amerika sangat konsen untuk tidak menggunakan pestisida,” ujar dia.

Selain itu, total suplai ekspor saat ini juga mulai berkurang. Hal itu dinilai akibat unsur hara tanah yang terkontaminasi zat kimia selama bertahun-tahun. “Untuk itu, lahan-lahan pertanian di Lampung butuh regenerasi,” kata dia.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait