#hiburan#teater#beritalampung

Lakon Lear dan Konteks Keadaan Sosial Politik Saat Ini

Lakon Lear dan Konteks Keadaan Sosial Politik Saat Ini
Lakon Lear dan Konteks Keadaan Sosial Politik Saat Ini, (foto:lampist/nurjanah)


BANDAR LAMPUNG (lampost. co) --- Raja Lear diterpa mimpi buruk.  Mimpi buruk yang mungkin sana beirisi kubangan merah berbau amis, bisik kepedihan,  kegelisahan,  dan jerit penderitaan dari rakyatnya. 

Rakyat yang terabaikan,  dibiarkan kelaparan,  dan menderita dalam keputusaan menanti kepedulian dari raja yang mereka idam - idamkan.  Lear pun tergeragap bangun dalam keadaan limbung dan linglung,  sebelum akhirnya raja Lear mati ditangan putri sulungnya sendiri. 
Keserakahan,  dan ketamakan dari penguasa Raja Lear tergambar dalam pementasan teater berdurasi 80 menit tersebut. 

Ratusan pasang mata yang telah menunggu sejak sore , seolah tidak sabar untuk  kembali menyaksikan pementasan teater karya sutradara Ari Pahala Hutabarat yang kali kedua dipentaskan di Gedung Tertutup Taman Budaya Lampung berjudul Lear tersebut. 

Dalam alur kisah, digambarkan sosok raja yang amat berkuasa. Dialah raja Lear yang diperankan oleh aktor Komunitas Berkat Yakin, Alexander GB. Raja Lear, memiliki dua orang putri. Sang sulung sosok yang selalu memuji sang ayah sekaligus raja. Sementara si bungsu, seorang pendiam dan tak pernah memberikan pujian pada raja. 
Namun, dibalik indahnya kata-kata sang Sulung, menyimpan ambisi untuk merebut tahta kekuasaan sang raja. 

Alhasil, berbagai cara dilakukan, termasuk dengan menjilat sang raja dengan kata-kata pujian. Penghianatan melalui kata-kata, hingga pembunuhan sang ayah dan adik kandungpun dilakukannya.

Lakon Lear yang diambil dari karya Rio Kishida itu,  dibuat berbeda dengan pementasan sebelumnya yang dimainkan pada bulan Mei 2018 lalu. 

Menurut sang sutradara, Ari Pahala,  ada perbedaan dari pementasan lakon Lear dengan sebelumnya ,  pertama dari aspek kisah yang lebih mengutamakan narasi metafor dengan simbol -simbol yang lebih banyak. Aspek drama turki yang dimainkan lebih multi layer dan banyak makna. 

"  Lakon Lear masih memiliki konteks dengan keadaan sosial politik di Indonesia saat ini. Lakon ini menggambarkan ambisi personal manusia terhadap kekuasaan yang pada akhirnya menjadi racun bagi banyak orang bahkan kelompok masyarakat secara luas, " katanya.

EDITOR

Nur Jannah

loading...




Komentar


Berita Terkait