#rupiah

Kurs Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp14.408/USD

Kurs Rupiah Dibuka Melemah ke Level Rp14.408/USD
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA


Jakarta (Lampost.co) -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa pagi terpantau melemah tipis ketimbang hari sebelumnya yang berada di posisi Rp14.407 per USD. Mata uang Garuda gagal menghantam mata uang Paman Sam meski tengah tertekan akibat melemahnya imbal hasil obligasi AS.

Mengutip Bloomberg, Selasa, 23 Maret 2021, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka melemah ke level Rp14.408 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.403 hingga Rp14.410 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.217 per USD.

Sementara itu, dolar Amerika Serikat tergelincir dari level tertinggi empat bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lain pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). USD terseret penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat dari level tertinggi baru-baru ini.

Krisis mata uang lira Turki selama akhir pekan sebagian besar bertahan di pasar negara-negara berkembang. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun sekitar 0,35 persen menjadi 92,09, menyusul kenaikan minggu lalu sebesar 0,5 persen.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS jatuh dari tertinggi 14 bulan pada Senin, 22 Maret, dan terakhir turun pada 1,682 persen, tetapi tetap dekat tertinggi satu tahun karena investor bertaruh pada pemulihan ekonomi.

Imbal hasil melonjak setelah Federal Reserve pekan lalu mengatakan ekonomi AS berada di jalur untuk pertumbuhan yang kuat. Para analis menuturkan investor sekarang menunggu lelang surat utang pemerintah pekan ini, yang dapat mengirim imbal hasil naik lagi jika permintaan lesu.

Selama akhir pekan, Presiden Turki Tayyip Erdogan secara mengejutkan mengganti gubernur bank sentral dengan kritik suku bunga tinggi, sehingga menyeret lira turun sebanyak 15 persen menjadi 8,485 terhadap dolar.

"Salah satu cerita utama hari ini adalah bahwa aksi jual dalam lira Turki tidak memiliki efek riak yang besar," kata Axel Merk, manajer portofolio di Merk Hard Currency Fund di Palo Alto, California.

"Kami memiliki (Ketua Fed) Jerome Powell berbicara beberapa kali minggu ini, dan dia akan melanjutkan alur cerita dari minggu lalu, yang menurut saya berarti bahwa imbal hasil obligasi akan ditahan, yang merupakan negatif untuk dolar," pungkasnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait