#kurikulum#kemendikbud#sekolah

Kurikulum Prototype 2022 Bakal Jadi Kurikulum Nasional di 2024

Kurikulum Prototype 2022 Bakal Jadi Kurikulum Nasional di 2024
Ilustrasi. Guru sedang mengajar di muka kelas. Dok MI/Panca Syurkani


Jakarta (Lampost.co) -- Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah menerapkan kurikulum prototype 2022 di 2.500 sekolah penggerak dan 1.000 SMK Pusat Keunggulan. Ke depan kurikulum ini akan dijalankan lebih masif dengan sifat opsional atau pilihan.

 

Namun, pada 2024 nanti, kurikulum tersebut akan diterapkan secara nasional. Tahun tersebut menjadi akhir dari penerapan kurikulum 2013.

"Kurikulum prototype 2022 akan menjadi kurikulum nasional pada tahun 2024. Dengan kata lain, pergantian berikutnya baru akan terjadi setelah kurikulum yang sebelumnya (K-13) diterapkan 11 tahun," tulis Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, dalam akun instagramnya, @ninoaditomo, dikutip Jumat, 7 Januari 2022.

Menurutnya, tahun 2024 merupakan waktu yang tepat. Karena menurutnya laju perubahan kurikulum nasional saat ini sangat melambat.

Sejak 2013 hingga sekarang, kurikulum itu telah melewati setidaknya empat menteri pendidikan. Di antaranya Mohammad Nuh, Anies Baswedan, Muhadjir Effendy, dan Nadiem Makarim.

"Ini waktu yang cukup untuk menetapkan pergantian kurikulum. Dan “ganti menteri ganti kurikulum” itu miskonsepsi, keliru secara faktual," sebut dia.

Lebih jauh, pria yang akrab disapa Nino ini juga menyinggung kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah, kata dia, berbeda dengan kerangka nasional.

"Kurikulum sekolah justru harus lebih sering diubah, diperbaiki secara rutin berdasarkan evaluasi penerapan pada tahun atau bahkan semester sebelumnya. Kurikulum sekolah juga perlu di-update karena adanya perubahan karakteristik murid serta perkembangan isu kontemporer," jelasnya.

Karena itu, kerangka kurikulum nasional juga harus memberi ruang inovasi. Kerangka kurikulum nasional harus betul-betul dirancang sebagai kerangka, sebagai skeleton, yang bisa dan harus dikembangkan lebih lanjut oleh masing-masing sekolah.

Jika kerangka nasionalnya dirancang secara preskriptif, misalnya dengan memasukkan terlalu banyak materi wajib dan mengunci jam pelajaran per minggu, maka sekolah akan sulit berinovasi dalam menyusun kurikulum yang sesuai kebutuhannya.

"Intinya, kita perlu sebuah kerangka kurikulum nasional yang relatif ajek, tidak cepat berubah, tapi memungkinkan adaptasi dan perubahan yang cepat di tingkat sekolah. Inilah yang kami lakukan dengan merancang kurikulum prototype," tutup dia.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait