#PENUSUKAN#SYEKHALIJABER

Kuasa Hukum Minta Penusuk Syekh Ali Jaber Jalani Rehabilitasi Kejiwaan

Kuasa Hukum Minta Penusuk Syekh Ali Jaber Jalani Rehabilitasi Kejiwaan
Ilustrasi: Pixabay.com


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Tim Kuasa Hukum Alpin Andrian (24) pelaku penusukan Alm. Syekh Ali Jaber bersikukuh jika terdakwa tidak memiliki kemampuan untuk mempertanggungjawabkan tindak pidana yang dilakukannya. Kuasa hukum meminta rehabilitasi kejiwaan terhadap terdakwa. Hal itu disampaikan oleh Penasihat Hukum terdakwa, Ardiansyah, dalam nota pembelaan (pleidoi) dalam sidang di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Kamis 4 Maret 2021.

Dalam pembelaannya, tim penasihat hukum mengatakan peristiwa penusukan yang terjadi pada Minggu, 13 September 2020 adalah peristiwa luar biasa dan tidak masuk akal bagi masyarakat umum. Sehingga patut untuk diamati secara seksama bagaimana penyerangan ini bisa terjadi.

"Kami berpandangan klien kami tidak dalam posisi bisa mempertanggungjawabkan tindakannya karena memiliki gangguan dalam pikiran dan perilaku yang ditunjukkan," ujarnya.

Ardiansyah menjelaskan hal itu diperkuat dengan keterangan sejumlah saksi yang telah disumpah untuk memberikan keterangan sebenar-benarnya. Bahwa sejumlah saksi pernah mengantarkan terdakwa untuk menjalani pengobatan gangguan jiwa di tahun 2016. Dengan kondisi terdakwa yang tidak dapat dikontrol yakni mengamuk, meludah-ludah, dan memberontak. 

"Perilaku terdakwa ini kemudian berulang di 2020 sepeti yang diungkapkan saksi Rosmala Dewi. Terdakwa bahkan pernah mencoba menyayat lehernya lehernya sendiri karena tekanan atas masalah keluarganya," katanya.

Kemudian, terdakwa seketika menusuk lengan kanan korban dengan maksud melukai bukan dengan niat membunuh korban. Hal ini juga berdasarkan keterangan saksi yang mengatakan terdakwa mengambil pisau milik neneknya di dapur untuk melukai korban.

"Dengan uraian diatas tim kuasa hukum memohon agar melepaskan terdakwa sebagaimana dalam pasal 44 ayat (1) KUHP dan ayat (2) menyerahkan ke RSJD Lampung untuk menjalani rehabilitasi selama 1 tahun," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa penyerangan Syekh Ali Jaber ini sempat menggegerkan media sosial pada akhir tahun 2020. Semua mata tertuju kepada sosok yang melakukan tindakan nekat dan mencari tahu apa motif dari serangan terhadap tokoh agama tersebut. 

Kini terdakwa yang ditengarai mempunyai gangguan mental kejiwaan sedang menanti putusan hakim atas tindakan pidana yang sudah dilakukannya. Sementara istri Syekh Ali Jaber, Deva Rachman, menyampaikan amanat almarhum suaminya untuk memaafkan terdakwa. Hal ini kemudian disampaikan kepada Majelis Hakim PN Tanjungkarang melalui surat permohonan yang ditandatangani pada 1 Maret 2021. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait