#penyelundupansatwa#beritalampung#satwalindung

KSKP Sita Ribuan Burung di SPBU Gatam Bakauheni

KSKP Sita Ribuan Burung di SPBU Gatam Bakauheni
Ribuan burung yang diamankan KSKP Bakauheni. Lampost.co/Aan Kridolaksono


Kalianda (Lampost.co): Jajaran Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni mengamankan sekitar 2.800 ekor burung berbagai jenis tanpa dokumen resmi yang diangkut sebuah mobil Kijang Innova BE-1378-FE di SPBU Garuda Hitam, Jalinsum Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa, 28 Januari 2020, sekitar pukul 04.00 WIB.

"Kita amankan saat minibus yang dikemudikan inisial AF warga Metro, sedang mengisi bahan bakar di SPBU Garuda Hitam," kata Kepala KSKP Bakauheni AKP M. Indra Parameswara didampingi Kanit Reskrim Ipda Mustholih di Mako KSKP Bakauheni, Selasa, 28 Januari 2020.

Terungkapnya penyelundupan berbagai jenis burung tanpa kelengkapan dokumen itu, ujar Mustholih, berawal dari laporan masyarakat. Berbekal laporan tersebut Tim Reskrim KSKP dibantu Tekab 308 Polres Lampung Selatan bergerak cepat menuju sasaran.

"Setelah digeledah, kita temukan puluhan keranjang warna putih berisi sekitar 2.800 ekor burung berbagai jenis yang tidak dilengkapi dokumen resmi," ujarnya.

Berdasarkan pengakuan AF (sopir) burung-burung asal Metro itu akan diperdagangkan di sekitaran Jabodetabek. "Sebelum tertangkap, pelaku AF mengaku sudah 8 kali melakukan penyelundupan serupa," kata dia.

Ia menjelaskan, walau ribuan ekor burung yang diamankan bukan termasuk dalam satwa yang dilindungi, namun tindakan AF yang mengangkut ribuan ekor burung itu telah melanggar Pasal 31 UU RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

"Dalam UU itu disebutkan setiap burung yang dibawa lintas pulau harus dilengkapi dengan dokumen resmi yang dipersyaratkan. Namun pengiriman burung dari Metro ke Jabodetabek ini tanpa dokumen yang sah, " pungkasnya.

Selanjutnya burung-burung liar tersebut diserahkan ke Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung Wilker Bakauheni dan berkoordinasi dengan BKSDA untuk penanganan lebih lanjut.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait