Mimbarabdulkohar

Kritisisme vs Nyinyirisme

Kritisisme vs Nyinyirisme
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group


SEBERAPA besar manfaat skeptisisme bagi harapan pemulihan ekonomi? Bagi saya, jawabannya amat jelas: nyaris nihil. Itu karena skeptisisme alias keraguan, kini hanya berbeda selapis kulit bawang dengan nyinyirisme.

Skeptisisme amat berbeda dengan kritisisme. Kalau skeptisisme kini cenderung nyinyir, sikap kritis justru sebaliknya. Kritisisme bisa menghindarkan pengambil kebijakan ekonomi dari keterpelesetan saat mengatur strategi, menentukan keputusan, atau membuat resep pemulihan ekonomi. Yang repot, banyak pengkritik yang membabi buta dan mengumbar sekadar skeptisisme, bukan kritisisme.

Skeptisisme inilah yang rutin dikembangkan oleh sejumlah tokoh saat menanggapi optimisme pemerintah, khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, akan kebangkitan ekonomi kita di 2021. Beberapa kali Bu Menteri meyakinkan kepada publik bahwa ekonomi kita akan bangkit di 2021.

Sri Mulyani tidak asal bicara. Ia sepenuhnya menggenggam data. Ia dan timnya punya analisis atas kecenderungan-kecenderungan geliat ekonomi di triwulan terakhir 2020 ini. Dari situlah muncul optimisme bahwa ekonomi kita bisa tumbuh 4% hingga 5%, tahun depan.

Tren perdagangan kita juga menunjukkan prospek menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus 2,62 miliar dolar AS pada November 2020. Surplus tersebut dipicu oleh ekspor yang meroket, mencapai 15,28 miliar dolar AS. Angka tersebut melampaui impor yang senilai 12,66 miliar dolar AS.

Bila diselisik lebih jauh, neraca perdagangan kita dari Januari hingga November 2020 juga membiru, menguatkan alasan Menteri Keuangan untuk menebar optimisme. Secara kumulatif, sejak Januari hingga November 2020 neraca perdagangan Indonesia surplus 19,66 miliar dolar AS. Surplus itu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan defisit pada dua tahun terakhir, yaitu 3,51 miliar dolar AS pada 2019 dan 7,62 miliar dolar AS di 2018. 

Lembaga-lembaga internasional seperti IMF, World Bank, ADB, Morgan Stanley juga memprediksi perekonomian sejumlah negara, termasuk Indonesia, akan bangkit tahun depan. Kendati memasang angka berbeda-beda, umumnya selisih angka prediksi mereka tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran yang sama: 4% hingga 5%.

Tapi, para pengumbar skeptisisme terkesan menutup mata atas deretan fakta, data, dan beragam analisis tersebut. Ada, misalnya, mantan pejabat menulis di Twitter dengan pandangan yang sangat skeptis, bahkan nyinyir, dengan menyebut Sri Mulyani bluffing (membual) dengan optimismenya terkait pertumbuhan ekonomi. 'Sang mantan' justru memprediksi perekonomian kita akan ambyar di 2021. Sulit membedakan antara analisis, prediksi, dan provokasi.

Tidak ada analisis data, apalagi fakta. 'Sang mantan' bahkan secara 'sadis' menulis: 'Ironi yang semakin menjadi-jadi. Kekuasaan semakin ditumpuk, tapi kemampuan untuk selesaikan masalah semakin nihil'.

Skeptisisme seperti itu jumlahnya tidak cuma satu, ada beberapa. Mereka ada yang menyebut diri penganut Cartesian Doubt (metode Keraguan Descartes). Padahal Rene Descartes, sang filsuf abad ke-16 yang melahirkan metode itu, memegang skeptisisme sekadar sebagai metode, bukan filsafat. Sebagai filsafat, Descartes lebih memegang kritisisme, yang sangat berguna dalam upaya pencarian kebenaran.

Skeptisisme sebagai filsafat bermula sebagai keraguan, berakhir sebagai keraguan pula -- alias nihilisme. Sedangkan skeptisisme sebagai metode, bermula sebagai keraguan, berakhir sebagai pengetahuan atau kritik. Yang terakhir inilah jalan yang dimaksud sebagai Cartesian Doubt.

Kalau ada orang di warung kopi meragukan optimisme pemerintah tentang kebangkitan ekonomi, itu skeptisisme. Kalau ada profesor kampus bilang kebangkitan ekonomi belum bisa diraih dalam waktu cepat karena instrumen-instrumen daya ungkit lemah, pengaruh global belum signifikan, masih terlalu mengandalkan APBN, dan seterusnya, itulah kritisisme yang banyak faedahnya bagi pengambilan kebijakan.

Kalau ada 'orang sekolahan' mengumbar skeptisisme seperti obrolan orang di warung kopi, lalu apa gunanya pendidikan panjang yang ia tempuh itu? Punya pisau tajam analisis kritis, kok memilih menumpulkan diri dengan nyinyir tak berkesudahan. Malu, ih. *****

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait