#pelabuhan

Krakatau International Port Targetkan 5.000 Kapal Bersandar di Selat Sunda

Krakatau International Port Targetkan 5.000 Kapal Bersandar di Selat Sunda
Direktur Utama Krakatau Bandar Samudera Muhamad Akbar Djohan saat mengunjungi Media Group Network. Medcom/Husen Miftahuddin


Jakarta (Lampost.co) -- PT Krakatau Bandar Samudera atau Krakatau International Port (KIP) menargetkan dapat melayani 5.000 kapal niaga bersandar di Selat Sunda hingga 2026.
 
Untuk itu, anak usaha PT Krakatau Steel (Persero) Tbk ini berkomitmen menjadikan Selat Sunda sebagai pelabuhan strategis yang dapat melayani seluruh kebutuhan kapal dengan pelayanan berstandar internasional.
 
Direktur Utama Krakatau Bandar Samudera Muhamad Akbar Djohan mengatakan Krakatau International Port menjadi potensi sebagai aset nasional karena pelabuhan ini merupakan integrated industrial port. Sampai saat ini, Krakatau International Port berusia 25 tahun dan memiliki 17 dermaga dengan kedalaman minus 21 meter. Adapun untuk satu dermaga memiliki kepanjangan hingga 3,5 kilometer.

"Karena keberadaan kami di Selat Sunda yang sangat strategis, Alur Laut Kepulauan Indonesia atau ALKI I menjadi lokasi emas bagaimana kapal yang lalu lalang di Selat Sunda kurang lebih 53 ribu kapal per tahun, ini bisa singgah di pelabuhan kita. Sehingga sangat tepat kalau misalnya kita memberikan suatu layanan terintegrasi untuk memikat kapal-kapal tersebut, paling tidak 10 persennya bisa singgah di tempat kami," ujar Akbar dalam kunjungannya ke Media Group Network, Senin, 27 September 2021.

Baca: Bea Cukai Musnahkan Barang Bukti Hasil Penindakan Senilai Rp32, 4 Miliar


 
Guna meningkatkan kebutuhan kapal dengan pelayanan berstandar internasional, Akbar membeberkan bahwa pihaknya mengembangkan first bunkering. Sehingga, kapal-kapal yang lewat dan singgah di Selat Sunda mudah untuk isi bahan bakar dan logistic services lainnya.
 
"Tentunya layanan-layanan integrasi tersebut, mulai dari jasa bunkering yang sudah kita kerjasamakan dengan Pertamina. Sehingga harapan kami selain menjadi pelabuhan integrated industrial juga bisa menjadi pelabuhan rantai pasok energi," paparnya.
 
Selain bunkering Marine Fuel Oil (MFO), KIP akan merealisasikan integrated port services dengan melengkapi fasilitas pelabuhannya seperti Port Reception Facility, ship chandler, first emergency call  untuk kapal dan Anak Buah Kapal (ABK) terutama di masa pandemi covid-19, dan crew change.
 
"Sehingga mulai daripada high speed diesel, low sulfur, MFO, ini bisa kita layani untuk kebutuhan-kebutuhan baik kapal-kapal niaga internasional maupun kapal-kapal pelayaran domestik," urai Akbar.
 
Hingga saat ini, Krakatau International Port melayani 800 kapal dalam satu tahun. Sebanyak 70 persen di antaranya merupakan kapal-kapal asing. "Ini menjadi captive market (pasar potensial) daripada Pertamina itu sendiri bersama kami, Krakatau International Port," pungkas Akbar.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait