#KPK#Setnov#korupsi#KPTel#nasional

KPK Pertimbangkan Tahan Novanto di Rutan

KPK Pertimbangkan Tahan Novanto di Rutan
Juru bicara KPK Febri Diansyah. (foto:MI/Susanto)


JAKARTA (Lampost.co)--Komisi Pemberantasan Kourpsi (KPK) mempertimbangkan menahan tersangka korupsi KTP elektronik (KTP-el) Setya Novanto di rumah tahanan. KPK masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan Setya Novanto yang saat ini di rawat di RSCM.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Novanto pada Jumat (17/11) malam sudah menjalani serangkaian tes pemeriksaan umum, MRI, hingga tes CT-Scan. Hasil tes medis, analisa, dan kesimpulan dokter akan menjadi pertimbangan untuk mengambil langkah selanjutnya. 

"Apakah masih dibutuhkan observasi dalam beberapa hari ke depan, atau dapat dilakukan pemeriksaan dan penahanan lanjutan di Rutan KPK, akan ditentukan kemudian," ungkap Febri, Sabtu (18/11/2017). 
Febri menegaskan, Novanto sedianya menjadi tahanan KPK sejak Jumat kemarin. Menurut Febri, ditandatangani atau tidaknya Berita Acara Penahanan bukan menjadi syarat keabsahan penahanan tersangka. 
Ia menambahkan, dasar hukum penahanan yakni Pasal 21 KUHAP. Alasan objektif ataupun subjektif dipandang telah terpenuhi, dan Novanto diduga keras, dengan bukti yang cukup telah melakukan tindak pidana korupsi. 
Selain itu, Ketua Umum DPR RI itu sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), sehingga seluruh alasan hukum yang dibutuhkan untuk penahanan telah terpenuhi. Febri juga mengatakan, lembaga pimpinan Agus Rahardjo itu berharap kasus Novanto bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak. 

"Kami juga berharap, peristiwa yang terjadi minggu ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak. Terutama untuk para saksi atau tersangka yang dipanggil penegak hukum agar mematuhi kewajiban tersebut," kata Febri. 
KPK sebelumnya telah menerbitkan surat penahanan terhadap Novanto. Surat itu dikeluarkan penyidik terhitung sejak Jumat, 17 November 2017. Namun, penahanan dibantarkan, karena Novanto harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena kecelakaan.

Penahanan Novanto sempat dipertanyakan oleh kuasa hukumnya, Fredrich Yunadi. Menurut dia, hal ini tidak masuk akal karena Novanto belum pernah melalui proses pemeriksaan. Ia merasa KPK membuat surat penahanan tanpa dasar kuat dari undang-undang untuk bisa menahan seseorang tanpa pemeriksaan dan dalam keadaan sakit cukup parah. 
Fredrich mengaku tidak mengetahui isi surat karena dia tidak membuka ataupun membacanya. KPK, kata dia, juga tidak berkomunikasi dengannya sebelumnya. "Ngomong saja enggak, kok tiba-tiba ada surat penahanan," sambung dia. 
Sebelumnya, Novanto ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi KTP elektronik (KTP-el). Dia diduga telah menguntungkan diri sendiri dan korporasi dari megaproyek tersebut.

Namun, sepanjang proses penyidikan Novanto tidak bersikap kooperatif. Dia empat kali menolak diperiksa penyidik, tiga kali sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo dan satu kali sebagai tersangka.
KPK akhirnya mengeluarkan surat penangkapan terhadap Novanto pada Rabu, 15 November 2017. Namun, penyidik tidak menemukan Novanto saat mendatangi kediamannya di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sempat menghilang sejak Rabu malam, Novanto tiba-tiba muncul dan mengaku siap menyerahkan diri ke KPK pada Kamis petang. Namun, mobil Toyota Fortuner dengan nomor polisi B 1732 ZLO yang ditumpangi Novanto mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Jakarta Barat, Kamis (16/11). Akibat kecelakaan itu, Novanto dibawa ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau untuk mendapat perawatan.

EDITOR

MTVN

loading...




Komentar


Berita Terkait