EdhyPrabowopartaigerindra

KPK Jelaskan Kronologi dan Barang Bukti OTT Edhy Prabowo

KPK Jelaskan Kronologi dan Barang Bukti OTT Edhy Prabowo
ilustrasi. Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez


Jakarta (Lampost.co) -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeberkan kronologi operasi tangkap tangan (OTT) Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. KPK awalnya menerima laporan pemberian uang kepada penyelenggara negara.

 "Pada tanggal 21-23 November 2020, KPK menerima informasi adanya transaksi pada rekening bank," kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango di Gedung Penunjang KPK, Jakarta Selatan, Rabu, 25 November 2020.

Rekening itu diduga sebagai penampung dana dari beberapa pihak yang diberikan pada Edhy sebagai penyelenggara negara. Transaksi itu digunakan untuk pembelian sejumlah barang mewah di luar negeri. 

Selanjunya, pada Selasa, 24 November 2020 petugas KPK bergerak dan membagi menjadi beberapa tim. Mereka berpencar di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebagian DKI Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi.  

Pada Rabu, 25 November 2020 pukul 00.30 WIB tim melakukan pengamanan di beberapa lokasi. Delapan orang ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yaitu Menteri KKP Edhy Prabowo, istri Edhy yakni Iis Rosyati Dewi, staf khusus Menteri KKP Safri, dan Direktur Jenderal Tangkap Ikan KKP Zaini. Kemudian ajudan Menteri KKP Yudha; protokoler KKP Yeni; Humas KKP Desri; dan Direktur Jenderal Budi Daya KKP Selamet. 

Sementara itu, sembilan orang lainnya diringkus di rumah masing-masing. Mereka adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito, pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK) Siswadi, pengendali PT PLI Dipo, dan pengendali PT ACK Deden Deni. Selanjutnya istri Siswadi yakni Nety, staf istri Menteri KKP Ainul Faqih, staf Menteri KKP Syaihul Anam, dan staf PT Gardatama Security Mulyanto. 

"Para pihak tersebut selanjutnya diamankan dan dibawa ke Gedung Merah Putih KPK untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap Nawawi. 

Dari penangkapan itu, KPK menyita sejumlah barang bukti. Barang-barang itu yakni ATM BNI atas nama Ainul Faqih, tas LV, tas Hermes, baju Old Navy, jam Rolex, jam Jacob n Co, tas koper Tumi, dan tas koper LV.

Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka bersama enam orang lainnya. Mereka dijerat kasus dugaan korupsi terkait perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya pada tahun 2020.

Sebanyak enam orang tersangka sebagai penerima yakni Staf Khusus Menteri KP Safri, Staf Khusus Menteri KP Andreau Pribadi Misanta, pengurus PT ACK Siswadi, istri Staf Menteri KP Ainul Faqih, Amiril Mukminin, serta Edhy Prabowo. Sementara itu, seorang tersangka sebagai pemberi yakni Direktur PT DPP Suharjito (SJT). Adapun dua tersangka saat ini belum ditahan KPK, yakni Andreu dan Amiril. KPK mengimbau dua tersangka segera menyerahkan diri ke KPK.

Edhy diduga menerima Rp3,4 miliar dan US$100ribu (Rp1,4 miliar, kurs Rp14.200) dalam korupsi tersebut. Sebagian uang digunakan untuk berbelanja dengan istri serta Andreau dan Safri ke Honolulu, Hawaii.

Penerima disangkakan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan pemberi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

EDITOR

Medcom

loading...




Komentar


Berita Terkait