#KPK#Korupsi

KPK Diminta Tak Lupakan Kasus Lain yang Menjerat Nurhadi

KPK Diminta Tak Lupakan Kasus Lain yang Menjerat Nurhadi
Eks Sekretaris MA Nurhadi/MI/Rommy Pujianto.


Jakarta (Lampost.co) -- Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta pengusutan perkara yang menjerat mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi tidak disetop. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta memulai penyidikan kasus dugaan pencucian uang dan upaya membantu pelarian Nurhadi.

"KPK musti segera menerbitkan dua surat perintah penyelidikan," kata peneliti dari ICW Kurnia Ramadhana melalui keterangan tertulis, Sabtu, 13 Maret 2021.

Kurnia mengatakan bukti dugaan pencucian uang yang dilakukan Nurhadi terpampang selama persidangan. Lembaga Antikorupsi diminta segera melakukan penyidikan.

Selain itu, ICW menagih janji KPK untuk menjerat para pembantu pelarian Nurhadi semasa buron. "Terutama bagi pihak-pihak yang selama ini melindungi atau menyembunyikan Nurhadi saat ia melarikan diri," ujar Kurnia.

ICW juga meminta kepolisian terus mengusut kasus pemukulan petugas rumah tahanan yang dilakukan Nurhadi. Kasus itu diminta tidak disetop.

"ICW turut pula meminta agar Kepolisian sgr memproses hukum insiden pemukulan di rumah tahanan KPK yang diduga dilakukan oleh Nurhadi," tutur Kurnia.

Sebelumnya, Sebelumnya, Nurhadi Abdurrachman divonis 6 tahun penjara serta denda pidana 500 juta subsider 3 bulan kurungan. Menantunya, Rezky Herbiyono juga mendapat hukuman serupa.

Keduanya terbukti menerima suap Rp35,7 miliar dan gratifikasi Rp13,7 miliar. Fulus terkait pengaturan sejumlah perkara di lingkungan peradilan.

"Mengadili, menyatakan para terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan beberapa kali," kata Ketua Majelis Hakim Saifudin Zuhri di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 10 Maret 2021.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa. Nurhadi dituntut pidana 12 tahun penjara, sedangkan Rezky dituntut 11 tahun kurungan.

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait