#mobillistrik#korlantas#nasional

Korlantas Persoalkan Kecepatan dan Kesenyapan Kendaraan Listrik 

Korlantas Persoalkan Kecepatan dan Kesenyapan Kendaraan Listrik 
Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Brigjen Pol. Chryshnanda DL. (Foto:Dok.Korlantas)


JAKARTA (Lampost.co)--Kemunculan kendaraan listrik yang telah mulai dipasarkan, rupanya menjadi catatan tersendiri bagi Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri. Hal ini dipicu kemampuan kendaraan tanpa bahan bakar minyak ini yang sanggup dioperasikan dengan kecepatan tinggi.

Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri, Brigjen Pol. Chryshnanda DL, mengatakan bahwa kecepatan maksimal yang dilanggar maka dampaknya bisa berakibat fatal terhadap korban kecelakaan. Lalu lintas sebagai ikon kemanusiaan dan peradaban, maka yang senantiasa dipikirkan adalah bagaimana agar aman selamat tertib dan lancar.

"Kecepatan 30 kilometer per jam ini sudah dapat mematikan seseorang yang tertabrak. Mengendarai kendaraan yang mampu dioperasionalkan dengan kecepatan tinggi ini dibutuhkan kompetensi tertentu untuk menjaga keselamatan bagi dirinya maupun orang lain. Ingat lalu lintas, ingat kemanusiaan dan peradaban untuk semakin manusiawinya manusia," ujarnya di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Pengkategorian pengaturan kendaraan bermotor tidak lagi berbasis cc (kapasitas mesin) dari kendaraan tersebut melainkan berbasis kecepatan. Menurut dia, standar jarak dengan waktu tempuh bisa dibuat maka yang dilakukan adalah memanage kecepatan. Kecepatan ini juga perlu diatur standar minimal dan maksimalnya. 
"Saat membahas keselamatan maupun kelancaran maka kecepatan kembali menjadi basis pemikiran untuk mengatasi perlambatan maupun pencegahan untuk menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan dan meningkatkan kualitas keselamatan," ungkapnya.

Lantas bagaimana dengan kendaraan listrik yang belum diatur pengoperasionalannya? Perdebatan sebagai kendaraan bermotor atau bukan tentu bukan masalah yang kritikal. Karena dasar bagi lalu lintas yang aman dan selamat adalah pada kecepatannya.

"Yang harus terpenuhi dalam pengoperasian kendaraan listrik, selain bicara kecepatan, juga kesenyapan kendaraan listrik yang sebenarnya membuat masalah baru di jalan, terkait berkeselamatan. Karena sangat senyap jadi tidak safety, apalagi untuk pejalan kaki tidak terdengar ada kendaraan datang. Maka dari itu, ada aturan regulasi yang dikeluarkan juga oleh PBB, di mana ada suara minimalnya," tutupnya. 

EDITOR

Luchito Sangsoko

loading...




Komentar


Berita Terkait