#kanjuruhan

Korban Tragedi Kanjuruhan Menggunung Dinilai Tanda Kegagalan PSSI

Korban Tragedi Kanjuruhan Menggunung Dinilai Tanda Kegagalan PSSI
Pengamat sepak bola Bung Towel/Medcom.id/Fachri


Jakarta (Lampost.co) -- Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dinilai gagal menggelar pertandingan sepak bola yang aman. Hal tersebut buntut tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

"Karena secara filosofi PSSI dalam hal ini kan gagal melaksanakan pertandingan sepak bola dengan aman. Fakta di lapangan kan menimbulkan korban jiwa yang sangat banyak," kata pengamat sepak bola Tommy Welly (Bung Towel) dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Motif Cuan di Balik Tragedi Kanjuruhan', Minggu, 9 Oktober 2022. 

Baca juga: Korban Tragedi Kanjuruhan Jadi 678 Orang

Menurut Bung Towel, PSSI tidak mengawasi jalannya pertandingan sepak bola sesuai aturan. Regulasi terkait pertandingan mestinya diimplementasikan ketat.

"Bagaimana aturan itu dijalankan dengan semestinya itu yang kurang rapi gitu dan menurut saya sih. Memang sepak bola harus ada pertanggungjawaban bukan sekadar hukum positif," ujar Bung Towel.

Ia juga menyoroti mengenai teknis pengamanan pertandingan. Penggunaan senjata tajam dan gas air mata mestinya tidak dibenarkan ketika terjadi kericuhan di dalam stadion. 

Bung Towel mengatakan penanganan persoalan di pertandingan mesti menghindari cara-cara represif. Selain itu, panitia pelaksana (panpel) di dalam stadion harusnya lebih dahulu turun tangan ketimbang aparat.

"Biasanya kan pendekatan-pendekatannya lebih soft dulu jika sampai ada kebobolan yang masuk lapangan. Baru kemudian kepolisian pengamanan dan sebagainya," jelas Bung Towel.

Polri menetapkan enam tersangka dalam insiden kerusuhan yang terjadi pascapertandingan sepak bola antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Peristiwa itu menewaskan 131 orang.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait