keadilan

Korban Penganiayaan Kembali Datangi Kejati Minta Keadilan

Korban Penganiayaan Kembali Datangi Kejati Minta Keadilan
Bukti Surat Laporan Korban Penganiayaan ke Kejagung RI dan Kejati Lampung


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Angga Saputra (22) Warga Kampung Harapan Jaya LK II Dusun IV, RT 005 RW 000, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang Bandar Lampung, merupakan korban penganiayaan yang dilakukan enam orang akan mendatangi Kejaksaan Tinggi Lampung mempertanyakan perihal laporan yang ditujukan ke Pimpinan Kejati sepekan yang lalu.

Korban didampingi kuasa hukumnya Alian Setiadi membenarkan bahwa pada Jumat kemarin dia bersama Angga datang ke Kejati, namun tidak bertemu dengan pimpinan Adhyaksa itu.

Kedatangannya bersama korban kata Alian, mempertanyakan tindak lanjut dari laporan yang dikirimkan beberapa hari yang lalu ke Kejaksaan, karena tidak bertemu dengan Kepala Kejaksaan pihaknya memilih untuk datang lagi pada Senin besok, 16 November 2020.

" Ya besok ke Kejati lagi mempertanyakan laporan soal penganiayaan yang dituntut rendah itu," kata Direktur LBH Lampung Raya ini.

Dalam hal ini lanjut mantan Direktur LBH Bandar Lampung, ada tiga poin yang disampaikan, ketiga poin itu yakni bahwasanya adanya dugaan JPU Ponco Santoso, dalam perkara ini merekayasa fakta hukum dan hal tersebut bertentangan dengan ketentuan pasal 7 Ayat 1 Huruf F tentang peraturan jaksa Agung Republik Indonesia Nomor PER-014/A/JA/11/2012 tentang kode perilaku jaksa.

Memeriksa dan memberi sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kejati Lampung untuk mengambil alih perkara ini dan menunjuk jaksa lain untuk melakukan upaya hukum banding dan seterusnya agar perbuatan para terdakwa dihukum setimpal dengan undang-undang yang berlaku.

Mantan Direktur LBH Bnadar Lampung ini menjelaskan, bahwa benar korban yang merupakan kliennya dianiaya oleh  Momon, Ahmad Rizano, Nicho Saputra, Ahmad Setawan alias Mad, Joko Santoso Ferry Alias Metal, Yudi Sutrisno Alias Buang, Maman Alias KM, yang terjadi pada 24 Januari 2020 dan telah diperiksa disidik oleh Polairud Polda Lampung sesuai dengan berkas BAP.

" Beberapa saksi dipersidangan juga mengungkapkan bahwa benar Angga Saputra (Korban) dianiaya dan dikeroyok," kata Alian Setiadi.

Dalam hal ini, JPU tidak menuntut pidana Pengroyokan sebagai mana ketentuan pasal 170 KUHP padahal dalam fakta yang terungkap di persidangan bahwa korban Angga telah dikeroyok dan dianiaya secara bersama-sama.

" Berdasarkan bukti Video diterangkan pada menit 02.38. JPU Ponco menyatakan bahwa perkara tersebut adalah perkara perkelahian hal ini sangat bertentangan dengan BAP kepolisan dan fakta yang terungkap di persidangan Angga dianiaya dan di keroyok," ujarnya.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait