#koperasi#ekbis

Koperasi Jangan Mati Suri

Koperasi Jangan Mati Suri
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.


Jakarta (Lampost.co) -- Sejak Proklamasi Kemerdekaan, usia koperasi di Indonesia sudah 74 tahun pada 12 Juli 2021. Sudah cukup tua untuk ukuran manusia ataupun lembaga. Namun, jujur kita katakan bahwa selama lebih dari tujuh dasawarsa tersebut, belum ada 'ledakan' dahsyat dari koperasi. 

Dari total aset, misalnya, koperasi di negeri berpenduduk 271 juta jiwa ini baru membukukan nilai aset Rp154,72 triliun pada akhir 2019. Amat jauh bila dibandingkan dengan Credit Agricole Group di Prancis yang pada 2018 sudah memiliki aset US$96,25 miliar atau sekitar Rp1.420 triliun. 

Aset koperasi di Prancis itu hampir sepuluh kali lipat aset seluruh koperasi di Indonesia yang kini jumlahnya sekitar 127 ribu unit. Padahal, usia Credit Agricole Group 'baru' 37 tahun, alias separuh usia koperasi di Tanah Air. 

Harus diakui, keyakinan bersama bahwa koperasi bakal menjadi daya ungkit perekonomian kita belum sepenuhnya muncul. Sebaliknya, yang dominan ialah pesimisme dan keraguan akan sepak terjang koperasi. Bahkan, ada sinisme bahwa koperasi itu 'dari anggota, oleh anggota, tapi untuk pengurus'. 

Padahal, Bapak Koperasi Mohammad Hatta sangat serius saat awal memperjuangkan koperasi. Sembari kuliah di Belanda, Bung Hatta pun sampai perlu melakukan studi banding ke Swedia dan Denmark untuk merumuskan usaha bersama berasaskan kekeluargaan tersebut. 

Kala menjalankan koperasi, Bung Hatta amat serius menyemprit usaha yang dijalankan agak melenceng. Bung Hatta masih sering mendapati ada saja pihak yang keliru dalam memakai prinsip-prinsip koperasi yang benar. Dia pun beberapa kali mengeluarkan kritik di surat kabar, seperti pada 1933 di dalam Daulat Ra’jat. Bung Hatta mencoba menegakkan kaidah koperasi yang baik agar tercipta sistem ekonomi yang berbasis kerakyatan. 

Bung Hatta merasa masih banyak koperasi yang hanya mengejar keuntungan. Misalnya, menaikkan harga barang seenaknya atau melakukan intimidasi terhadap masyarakat yang tidak membeli di koperasi dengan menyebutnya ‘tidak setia kawan’. Padahal, menurutnya, tujuan koperasi bukan itu. Sebagaimana prinsipnya, koperasi harus bersifat sukarela. 

“Koperasi menyusun tenaga yang lemah yang tersebar itu menjadi suatu organisasi yang kuat. Kekuatan koperasi terletak pada persekutuannya yang berdasarkan tolong-menolong serta tanggung jawab bersama. Bukan mengadakan permusuhan keluar yang menjadi sifat yang utama, melainkan memperkuat solidaritas ke dalam, mendidik orang insaf akan harga dirinya serta menanam rasa percaya pada diri sendiri,” kata Bung Hatta dalam Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta yang ditulis Zulfikri Sulaeman. 

Bukan hanya itu, Bung Hatta juga menemukan ada koperasi yang melakukan persekutuan tidak adil dengan hanya menjual barang koperasi kepada anggotanya saja. Menurutnya, bentuk koperasi seperti itu tidak menunjukkan persekutuan ekonomi dan sosial yang bijak bagi seluruh masyarakat. Juga tidak mendidik perasaan sosial. 

Persaingan antarkoperasi juga masih sering terjadi. Sesuai dengan fungsi sosial koperasi, seharusnya antarkoperasi saling membantu menumbuhkan perekonomian di tengah masyarakat, bukan memperlihatkan persaingan yang berujung pada kesengsaraan rakyat. Cita-cita membangun ekonomi rakyat harus menjadi yang utama bagi koperasi. “Tujuan utama koperasi adalah untuk memenuhi kebutuhan para anggotanya. Keuntungan memang diperlukan untuk perkembangan koperasi lebih lanjut. Namun, untuk mencapai keuntungan tidak perlu mengorbankan tujuan yang utama,” terang Bung Hatta. 

Jadi, merunut apa yang dipaparkan Bung Hatta mestinya koperasi sudah mampu memberikan sesuatu yang amat berharga bagi rakyat dan negeri ini. Dengan berkoperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia akan lebih memiliki daya saing sebab jika melihat kinerja ekspor UMKM di Indonesia, masih terbilang kecil di angka 14% karena lemahnya daya saing. 

Kita harus mengubah mindset kalau koperasi itu skala usaha kecil. Jangan salah, jumlah koperasi besar di Indonesia 0,03%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah pengusaha besar yang hanya 0,01%. Kalau koperasi besar, menengah, dan koperasi kecil itu bahu-membahu, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) negeri ini bakal melonjak signifikan. 

Saat ini, kontribusi koperasi kita terhadap PDB baru 5%. Kondisi tersebut masih jauh bila dibandingkan dengan Prancis, Belanda, juga Selandia Baru yang kontribusi koperasi terhadap PDB-nya sudah sekitar 20%. Koperasi tak bisa lagi dibiarkan mati suri. Saatnya kita serius meneruskan cita-cita besar dan warisan penting Bung Hatta. Koperasi itu jantungnya kerja sama, gotong royong, dan kekeluargaan. Karena itu, koperasi harus dikembalikan menjadi, 'dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota'.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait