#ptpn7#ekbis#pupukorganik

Kompos Subur Produk Kelompok Tani Mitra PTPN 7

( kata)
Kompos Subur Produk Kelompok Tani Mitra PTPN 7
Foto: Dok


Gunungsugih (Lampost.co): Di seputar Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, nama Pupuk Organis Subur sudah akrab dengan kalangan petani. Pupuk ramah lingkungan karena dibuat dari bahan dasar kotoran sapi, kambing, ayam, dan bahan organik lainnya. Untuk  mendapat tempat di hati petani karena memiliki hubungan emosional dengan warga setempat dengan menggunakan bahan-bahan yang banyak tersedia dan ramah lingkungan. Dibantu dana kemitraan dari PTPN 7, zat penyubur yang diproduksi Kelompok Tani Pemuda Mandiri Maju Jaya Bersama (PMMJB) itu semakin bersinar.

“Alhamdulillah, usaha kami melalui kelompok tani mendapat sambutan dari masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani. Kami punya hubungan spesial dengan warga karena usaha ini dibangun dengan kebersamaan petani. Warga juga bisa jual kotoran sapi kepada kami Rp15 ribu sekarung,” kata Liwaul Hamdi, Ketua Kelompok Tani Pemuda Mandiri Maju Jaya Bersama.

Liwaul Hamdi mengatakan produksi pupuk kompos ini dibuat karena kebutuhan petani di Desa Jayasakti. Awalnya para petani di desa ini memgalami kesulitan memenuhi kebutuhan pupuk.

“Akhirnya kami sepakat untuk membuat pupuk kompos karena bahan baku banyak dari limbah perusahaan peternakan yang ada di sekitar desa. Yang terpenting lagi, kegiatan kelompok tani memproduksi pupuk ini bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat di desa kami,” kata pria yang akrab disapa Waul itu.

Waul mengatakan, kelompok tani yang dia pimpin didirikan pada 2018. Saat ini sudah ada 25 orang anggota ?elompok yang tergabung dalam Koptan Pemuda Mandiri Maju Bersama. Dan sudah memiliki 5 rumah produksi.

Setiap satu rumah produksi bisa menghasilkan 100 ton pupuk perbulan. Setiap rumah produksi mempekerjakan 10-15 orang setiap hari.

Waul mengaku pendirian kelompok tani Pemuda Mandiri Maju Bersama bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat secara luas. Misi utamanya, menguatkan kelembagaan petani desa dan membuka lapangan kerja bagi pemuda desa yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Kelmpok tani ini juga menjadi semacam penyambung hajat warga sekitar. Jika selama ini warga kehabisan uang lalu menjual ayam piaraan, Waul mengatakan kelompok tani memberi solusi.

“Biasanya kan orang misalnya kehabisan uang lalu pegang ayam untuk dijual, sekarang tidak. Mereka cukup kumpulkan kotoran sapi dari ternaknya, bawa ke kelompok tani, kami beli Rp15 ribu perkarung. Ini menjadi solusi keuangan yang selama ini tidak terpikir,” kata dia.

Untuk bahan baku pembuatan pupuk kompos, Waul mengaku tidak mendapat kendala. Setiap harinya ada 200 kilo kotoran sapi yang dihasilkan perusahaan peternakan. Selain itu kelompok tani juga mendapatkan kotoran kambing dan ayam dari masyarakat desa.

Dana Kemitraan

Pada saat pendirian, Kelompok Tani ini hanya bermodal tekad dan sedikit patungan dana modal dari anggota. Seperti untuk membeli kotoran sapi dari warga, sebanyak 25 anggota iuran Rp10 ribu setiap minggu.

Seiring perjalanan usaha kelompok tani, prospek itu menjadi pertimbangan PTPN 7 untuk membantu. Dikenalkan oleh lurah setempat kepada PTPN 7 Unit Padangratu, kelompok tani ini mendapatkan modal tambahan untuk membeli bahan baku. Bahkan sejak menjadi mitra binaan PTPN 7, kelompok ini juga mendapat pelatihan memasarkan produk.

“Kami bersyukur PTPN 7 membantu dalam pemasaran pupuk dan berpatner sebagai pembeli. Dari awal memproduksi pupuk ini, kami sangat berkeyakinan usaha ini dapat berjalan. Apalagi kebutuhan kompos ini diperlukan selamanya dibidang pertanian dan perkebunan,” tambah dia. 

Tentang peruntukan pupuk yang diproduksi, Waul mengatakan pihaknya menyesuaikan dengan kebutuhan pembeli. Jika pembeli menanam padi, pupuk komposnya diolah sesuai dengan kebutuhan nutrisi padi. Demikian juga dengan tanaman lain seperti kelapa sawit, karet, palawija, atau yang lain.
Menurutnya, pupuk Organik Subur ini dibuat dari kotoran hewan dan pelapukan sisa-sisa tanaman dan mekanan hewan. Pupuk organik subur mengandung banyak bahan organik dari pada kadar haranya sehingga sangat baik untuk meningkatkan produktivitas tanaman.

Komposisi pupuk tersebut yakni kotoran sapi, ayam broiler, kotoran kambing, abu tankos, kapur dolomit, molase, dan mikroba. Proses pembuatan pupuk yakni bahan dasar kotoran sapi ditaburi mikroba, kemudian ditaburi kotoran ayam dilapisi mikroba, kotoran kambing dilapisi mikroba, baru ditambah ditaburi abu tankos, dan pupuk dolomit. Minimal setengah bulan ditutup rapat pakai terpal. 

Setiap tiga hari atau maksimal satu minggu dibuka untuk diaduk dan ditutup kembali. Setelah setengah jadi baru ditambah nutrisi tergantung untuk jenis pemupukannya. Untuk digunakan tanaman jenis apa. Setelah itu dimasukan ke dalam gudang dan dilakukan proses penggilingan.
Pupuk yang dihasilkan juga dilakukan uji laboratorium yang dilaksanakan satu tahun sekali oleh tim dari Yogyakarta.

“Kami optimistis ke depan penjualan pupuk ini bisa keluar daerah. Saat ini saja kita sudah menjual keluar kabupaten Lampung Tengah, bahkan sudah sampai ke Lubuk Linggau. Apalagi kebutuhan pupuk ini tidak akan hilang karena zaman. Setiap saat para petani pasti membutuhkan pupuk.”
Ia berharap, kemitraan dengan PTPN 7 terus berjalan, terutama dalam kerjasama pembelian pupuk produksi koptan.  Dengan membeli Pupuk Organik Subur ini berarti membantu kehidupan masyarakat Desa Jayasakti.

Bagi masyarakat yang membutuhkan pupuk silakan datang ke Koptan Pemuda Mandiri yang beralatan di Desa Jayasakti Kecamatan Anak Tuha Lampung Tengah. Pupuk ini sangat cocok untuk tanaman kelapa sawit, karet, teh kakao, tanaman sayuran, tebu, padi, jagung, dan tanaman hias.

“Pupuk kami dalam variasi kemasan. Ada 5 kg, 10 kg, dan 20 kg. Harganya Rp5 ribu per kilo,” kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait