#kecelakaan#lakalantas#JTTS

KNKT Ungkap Faktor Tingginya Kecelakaan di Tol Sumatra

KNKT Ungkap Faktor Tingginya Kecelakaan di Tol Sumatra
Suasana gerbang Tol Itera Kotabaru Lampung Selatan. Lampost.co/Sukisno


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan sejumlah faktor yang menyebabnya tingginya angka kecelakaan lalu lintas di dua ruas Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) di antaranya Bakauheni-Terbanggibesar, dan Terbanggibesar-Pematangpanggang-Kayu Agung.

Jalur tol yang dikelola oleh PT Hutama Karya ini diharapkan bisa menciptakan situasi jalur tol yang tak monoton sehingga pengguna bisa melewati jalur tol dengan lebih tenang, dan tidak kondisi mengantuk.

Baca juga: Tiga Penumpang Tewas dalam Kecelakaan di Tol Pematang Panggang

"Dalam hasil survei kami lebih dari 80 persen angka kecelakaan terjadi karena mengantuk. Hal tersebut diakibatkan karena jalan tol di Sumatra sangat panjang dan cenderung monoton, sehingga warga yang melintas jenuh," kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, Kamis, 7 Oktober 2021.

Setelah melakukan investigasi sesuai dengan permintaan masyarakat, pihaknya menilai kodisi jalan lurus membuat pengemudi jenuh dan merasakan mengantuk di malam hari, jika siang hari panas yang terasa.

Dalam beberapa catatan kecelakaan, pihaknya menilai sebagian besar terjadi pada kendaraan truk. "Sopir truk paling mendominasi korban kecelakaan, maka dari itu baiknya pengelola tol sediakan tempat istirahat khusus untuk sopir truk di rest area," katanya

Untuk kecelakaan mobil pribadi, tercatat dikarenakan banyak yang mengejar waktu ke Pelabuhan Bakauheni karena khawatir tiket kapal laut yang dipesan hangus. "Seharusnya pihak PT ASDP bisa membuat kebijakan yang lebih baik agar memikirkan para pengendara ini jangan terburu-buru," katanya.

"Namun ada nilai plus dari jalan tol disini yaitu sisi geometri jalan yang sudah mantap dan tidak ada masalah, sehingga pengendara masih merasakan kenyamanan mengemudi," tambah dia.

Karena banyak masyarakat mengantuk, pihaknya mengusulkan untuk adanya papan billboard wisata atau informasi kopi Lampung di sejumlah titik rawan jalur tol.

"Kami usulkan di antara Bakauheni - Kalianda agar masyarakat pandangannya tidak jenuh," kata dia.

Tak hanya jalur jalan, pengelola juga harus menarik masyarakat masuk ke rest area, salah satunya perbanyak kegiatan masyarakat dan aktivitas lain dalam rest area.  

"Hal tersebut diusulkan agar masyarakat tidak takut, kegiatan UMKM atau gerai oleh-oleh perlu ada agar masyarakat tidak takut ada rampok dan sebagainya yang mengancam," jelas dia.

Dari rekomendasi tersebut, pihaknya mengharapkan secepatnya dapat pertimbangkan, agar terciptanya penurunan angka kecelakaan di JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar, dan Terbanggibesar-Pematangpanggang-Kayu Agung.

"Rekomendasi tersebut telah diterapkan di Tol Cipali, dan mendapatkan apresiasi karena bisa terjadi penurunan sampai 60 persen," tutup dia.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait