KKDnuansa

KKD

( kata)
KKD
pixabay


KONGRES Kebudayaan Desa disingkat KKD. Saya mendapatkan informasi tersebut dari salah satu grup WhatsApp yang saya pernah menjadi bagian di dalamnya. Timbul pertanyaan di benak, apa perlunya menggelar kongres kebudayaan desa di tengah pandemi? Lantas, kenapa pula mesti desa? Apakah karena semua orang kota itu enggan dan kurang berminat pada soal yang namanya kebudayaan? Semua tanya itu berkecamuk dalam dada.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kemendikbud daring mendefinisikan desa dengan empat arti. Definisi pertama, kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri. Kedua, kelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan. Selanjutnya, desa didefinisikan dengan udik atau dusun (dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan kota). Terakhir, desa didefinisikan sebagai tanah; tempat; daerah. Begitulah.

Kini, berlanjut ke Kongres Kebudayaan Desa yang digelar via aplikasi Zoom dan juga bisa dibaca di web kongreskebudayaandesa.id. Setidaknya, ada 20 tema yang dibahas dan puluhan narasumber yang berkompeten yang bisa disimak pada 1—10 Juli 2020. Desa itu jadi penopang bagi kehidupan. Sebagai pemerintahan yang paling dekat dengan warga, desa berupaya menerapkan tata nilai dan kehidupan baru bermasyarakat dan bernegara.

Namun, suasana desa berubah saat virus Covid-19 menyerang. Mampukah desa menghadapi situasi ini dengan tatanan baru? Maka, siasat-siasat kebudayaan perlu dirumuskan agar tidak ada lagi nyawa melayang karena Covid-19. Inilah latar belakang dihelatnya acara yang bertema besar Membaca Desa Mengeja Ulang I-N-D-O-N-E-S-I-A'.

Tidak bisa tidak, dikepung soal desa dan keindonesiaan ini, saya terkenang Cak Nun. Entah kenapa ia menuliskan buku yang jika dibaca sekilas seperti kalimat terbalik. Judul buku itu: Indonesia Bagian dari Desa Saya. Buku yang merupakan gambaran reflektif Cak Nun tentang kehidupan masyarakat pada 1970-an itu masih terasa relevan untuk didialogkan kembali.

Saya juga teringat dengan lirik lagu Desa dari penyanyi legendaris Iwan Fals. Pada pungkasan lagu itu ia menuliskan: Desa harus jadi kekuatan ekonomi. Terakhir, saya mencoba mendengarkan lirik lagu dari Ketcilbergerak yang berjudul Aku Anak Desa. Sebuah lagu yang diciptakan oleh Ketjilbergerak untuk menjadi penyemangat sekaligus perekat bagi jaringan anak desa di seluruh pelosok negeri. Saya kutip baris favorit saya dari lagu ini: Yang hebat dari desa sederhananya, Yang hebat dari desa adalah jujurnya, Yang hebat dari desa kemandiriannya. Mari berpijak ke desa. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Berita Terkait


Komentar