#inspirasi#pedagang

Kisah Pedagang Petis Sukses Kuliahkan Ketiga Anaknya Hingga Sarjana

Kisah Pedagang Petis Sukses Kuliahkan Ketiga Anaknya Hingga Sarjana
Yanto (68) sedang membuat pesanan dari pelanggan. Lampost.co/Salda A


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memastikan kehidupan anak berlangsung layak hingga anak tersebut mampu menghidupi dirinya sendiri, termasuk dalam biaya pendidikan. Dalam keadaan apa pun, orang tua akan mengusahakan yang terbaik bagi pendidikan anaknya.

Hal itu juga berlaku bagi Yanto, pedagang petis yang tak patah semangat meski dalam kondisi kekurangan, mampu menguliahkan ketiga anaknya hingga lulus di universitas terbaik. 

Berdagang petis selama kurang lebih 48 tahun sejak 1973 tak membuatnya patah arang. Meski saat ini usianya sudah menginjak 68 tahun, ia terlihat tetap semangat melayani para pedagang yang mengantre untuk merasakan olahan petis buah dengan bumbu utama terbuat dari kacang tanah tersebut.

Kelihaian tangannya mengaduk bumbu petis hingga menghasilkan cita rasa tersendiri bagi pelanggannya. Bagaimana tidak, dalam sehari ia mampu menjual sekitar 80 bungkus petis.

"Saya buka dari pukul 09.00 WIB, biasanya habis pukul 15.00 WIB. Sekitar 80 bungkus abis dalam sehari," katanya, Sabtu, 27 November 2021.

Ia menceritakan, bersama sang istri yang sudah almarhum datang dari Solo ke Bandar Lampung tidak ada sanak saudara yang membantu. Berkat kegigihan pasangan suami istri (pasutri) itu mampu menguliahkan ketiga anaknya hingga lulus di Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Lampung.

"Alhamdulillah mereka lulus dengan nilai baik. Sekarang semuanya sudah bekerja, dan mempunyai rumah masing-masing di Bandar Lampung dan Pulau Jawa," katanya.

Ia menceritakan awal mula berdagang di Jalan Dr Susilo selama 15 tahun, kemudian berpindah ke Jalan Diponegoro selama 11 tahun. Terakhir di Jalan Kartini Tanjung Karang Pusat di seberang SPBU sampai saat ini.

"Rumah saya tak jauh dari sini, jadi deket tinggal keluar, karena kalau jauh-jauh sudah tidak kuat lagi," ujarnya.

Meski telah berhasil menguliahkan anaknya hingga lulus kuliah, ia memilih tetap bekerja. Sang anak sempat melarang dirinya untuk berjualan dengan alasan karena sudah lansia, namun ia tetap bekerja dengan alasan sambil berolahraga agar tidak jenuh di rumah.

"Sudah dilarang karena udah tua, anak saya bilang duduk aja di rumah kami kirim uang, tapi saya gak mau. Hitung-itung olahraga biar gak jenuh di rumah," katanya.

Dalam satu bungkus Yanto menjual petis yang berisi buah mangga, jambu, bengkoang, timun, dan nanas seharga Rp15.000.
"Ya lumayan, selesai dagang langsung ke pasar beli buah-buah untuk besok, kalau lagi musim harga buah turun kalau gak naik buahnya," katanya.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait