Pertanianhama

Ketika Petani Berjibaku Berantas Hama Tikus

Ketika Petani Berjibaku Berantas Hama Tikus
Salah satu petani di Lampung Selatan usai umpan racun tikus di area persawahan. Lampost.co/Armansyah


Kalianda (Lampost.co) -- Pria berkaos lengan panjang itu bergegas menumpahkan gabah padi dan beras yang dicampuri dengan racun tikus di sekitaran tanggul dan galangan areal persawahan Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Kamis 21 Januari 2021.

Sesekali umpan racun yang diraciknya itu ia tumpahkan tidak jauh dari sebuah lubang yang merupakan sarang hama pengerat. Pria berkulit gelap itu mengelilingi galangan sawah sambil menaburi umpan mematikan hama tikus.

Pria yang merupakan petani desa setempat itu adalah Jumari. Dia merupakan salah satu petani yang berjibaku menekan serangan hama pengerat. Memasuki musim tanam rendeng ini, Jumari terpaksa rutin memasang umpan racun guna mengurangi serangan hama tikus. 

Dia mengaku terpaksa melakukan upaya pemasangan umpan racun dalam waktu satu pekan satu kali di persawahan yang digarapnya. Jika dibiarkan, maka hama tikus makin ganas merusak tanaman padi yang kini berusia 15-20 hari setelah tanam. 

"Hama pengerat ini makin banyak menyerang tanaman padi. Jika dibiarkan, maka tanaman akan rusak. Ini saja sudah banyak yang rusak akibat dimakan hama pengerat," kata dia. 

Umpan racun diakui Jumari terbilang cukup ampuh untuk menekan populasi dan serangan hama tikus. "Upaya lainnya, saya juga membersihkan setiap tanggul dan galangan untuk menghindari meningkatnya populasi hama tersebut," kata dia. 

Sementara itu, Plt Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Palas, Tarmijan, mengaku ada tiga desa yang melaporkan serangan hama pengerat, yakni Desa Sukabakti 8-10 hektare, Pematangbaru 2 hektare, dan Sukamulya 7 hektare.

"Serangan hama pengerat ini masih ringan. Tapi, kami tindaklanjuti laporan petani itu. Kami mengusulkan bantuan racun tikus ke Dinas Pertanian Lamsel. Mudah-mudahan bisa terealisasi supaya membantu petani," kata dia. 

Tarmijan mengatakan pihaknya berharap kepada petani supaya dapat melakukan upaya pencegahan seperti pengumpanan rutin dan melakukan geropyokan. Meski masih ringan, tapi serangan ini bisa terus berlanjut hingga kerusakan parah. 

"Dari awal sebelum mulai masa pengelolaan lahan persawahan, saya sudah sering imbau petani supaya rutin melakukan pengumpanan dan geropyokan. Tapi, ini belum terlambat masih bisa dilakukan sebelum ada banyak serangan," kata dia.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait