#lada#pertanian#perkebunan#feature

Ketika Kejayaan Lada Tak Lagi Menjadi Harapan Bagi Petani Lampura

( kata)
Ketika Kejayaan Lada Tak Lagi Menjadi Harapan Bagi Petani Lampura
Petani di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Sungkai Barat, Lampung Utara memanen lada. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co): Luas areal tanaman lada dari tahun ke tahun di Lampung Utara semakin tergerus. Kejayaan lada yang dulu menjadi kebanggaan bagi petani di Provinsi Lampung saat ini hanya menunggu waktu meredup.

Tanaman lada, cepat atau lambat akan ditebang dan digantikan dengan komoditas tanaman lain yang lebih menguntungkan. 

"Sebelumnya, hampir semua petani di desa kami menanam lada. Termasuk saya yang memiliki luas areal tanaman lada saat itu berkisar 2,5 hektare (ha). Sekarang, tanaman lada yang  masih dipelihara tersisa hanya satu hektare dan selebihnya telah diganti tanaman singkong," ujar petani lada, Rozali, warga Desa Tanjungjaya, Kecamatan Sungkai Barat, Lampung Utara, saat dihubungi, Jumat, 20 November 2020.

Rozali mengaku produktivitas hasil panen lada yang dari tahun ke tahun semakin lama semakin menurun. Sementara untuk harga di pasaran juga tidak sebanding dengan hasil panen lada yang dipetik petani.

"Sebelumnya, produktivitas hasil panen lada 1 ha areal lahan berkisar 1--1,2 ton. Dari tahun ke tahun produktivitas hasil panen semakin menyusut. Sekarang dalam satu hektare mendapat hasil panen 1 kwintal sudah termasuk bagus," ujarnya.

Untuk hasil panen lada miliknya pada Agustus 2020 lalu berkisar 1 kwintal, sementara harga lada di tingkat tengkulak atau pengepul berkisar Rp29--30 ribu per kilo.

"Dengan harga beli tertinggi Rp30 ribu per kilo dikali perolehan hasil panen lada sebanyak 1 kwintal, hanya diperoleh hasil Rp3 juta. Bila dibagi masa pemeliharaan tanaman lada selama 12 bulan, hasil kami hanya Rp250 ribu per bulan. Angka itu belum dikurangi beban modal yang mesti dikeluarkan," kata dia.

Hal tersebut menjadikan kondisi saat ini para petani wajar menebangi pohon ladanya dan beralih ke komoditas lain. "Misalnya ke singkong dengan pertimbangan biaya modalnya rendah dan pendapatan yang diperoleh dinilai lebih layak," katanya. 

Dia mengatakan bila ada jaminan harga layak dari pemerintah, maka dia yakin lada dapat kembali berjaya. "Kalau harga lada ditetapkan HET oleh pemerintah Rp90 ribu atau Rp100 ribu per kilo, saya yakin petani akan kembali menanam lada," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait