#internasional#beritainternasional

Kesepakatan Akhiri Perang Korea Terganjal Permintaan Korut

Kesepakatan Akhiri Perang Korea Terganjal Permintaan Korut
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. AFP


Canberra (Lampost.co) -- Korea Selatan dan Korea Utara pada prinsipnya sepakat untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak era 1950-an. Presiden Korsel Moon Jae-in mengatakan Amerika Serikat dan Tiongkok juga siap mendukung deklarasi formal berakhirnya Perang Korea.

Namun, pembicaraan menuju perjanjian resmi tersebut belum dimulai karena adanya beberapa permintaan Korut yang belum dapat dipenuhi.

Korut dan AS sedang berseteru terkait program senjata nuklir dan rudal balistik Pyongyang. AS menegaskan Korut harus terlebih dahulu menghentikan program senjata nuklir jika ingin ada pencabutan sanksi ekonomi. Sebaliknya, Korut meminta AS terlebih dahulu mencabut sanksi sebelum ada pembatasan atau penghentian program nuklir.

Berbicara di Canberra dalam kunjungan empat hari ke Australia, Moon mengatakan Korut terus menyampaikan berbagai permintaan, termasuk seputar sanksi. 

"Karena hal-hal semacam itu, kami belum dapat duduk bersama untuk berdiskusi atau bernegosiasi. Kami berharap dialog bisa dimulai suatu saat nanti," tutur Moon, dilansir dari The National, Senin, 13 Desember 2021. 

Sejak menjadi presiden Korsel, Moon menjadikan isu Korut sebagai salah satu agenda dan prioritas utama kebijakan luar negerinya. Dalam pertemuan Majelis Umum PBB pada September, Moon menyerukan Korut untuk secara resmi menghentikan permusuhan.

Pidato Moon kala itu memicu Kim Yo-jong, adik dari pemimpin Korut Kim Jong-un, untuk berkata inisiatif semacam itu merupakan ide yang bagus dan menarik.

Perang Korea di era 1950-an hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Menurut Moon, mengakhiri gencatan senjata yang tidak stabil tersebut merupakan hal penting untuk menuju perjanjian damai.

Ia menyebut deklarasi damai dapat meningkatkan peluang dalam upaya menyelesaikan isu program nuklir Korut. 

"(Deklarasi damai) akan membantu kami memulai negosiasi untuk denuklirisasi dan perdamaian di Semenanjung Korea," sebut Moon. 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait