#jalanrusak#jalinsum

Kerusakan Jalinsum Desa Pasuruan Rawan Lakalantas dan Kejahatan 

Kerusakan Jalinsum Desa Pasuruan Rawan Lakalantas dan Kejahatan 
Kerusakan jalinsum ruas Desa Pasuruan-Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, Lamsel, rawan lakalantas, terutama pengendara sepeda motor, Rabu, 1 Januari 2020. Lampost/ Aan Kridolaksono.


Kalianda (Lampost.co) -- Para pengguna jalan mengeluhkan kondisi jalan lintas sumatera (Jalinsum) di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang mencapai tiga kilometer. Kondisi tersebut cukup membahayakan bagi para pengguna jalan, terutama pengendara motor.

Pantauan Lampost.co, Rabu, 1 Desember 2020, jalan nasional yang membentang dari Desa Pasuruan hingga Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, bergelombang hingga berlubang. "Padahal jalan lintas ini belum lama ini selesai perbaikan tambal sulam. Namun tidak bertahan lama," kata  Zul (41), warga jalinsum Desa Kekiling kepada Lampost.co, Rabu, 1 Desember 2020.

Zul mengaku jalan rusak yang bergelombang dan dipenuhi lubang itu kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas, terutama dialami pengendara sepeda motor, karena menghindari jalan rusak tersebut. "Saya sering menyaksikan sepeda motor terjatuh akibat menghindari jalan yang berlubang. Beruntung dari arah berlawanan atau belakang korban tidak ada kendaraan lainnya," kata dia.

Untuk itu, dia mengimbau pengendara sepeda motor agar meningkatkan kewaspadaan dan hati-hati saat melintasi jalan nasional ruas Desa Pasuruan—Desa Kekiling. "Biasanya yang jatuh bukan warga sini, namun luar daerah yang belum paham kondisi jalan," katanya.

Hal senada dikatakan Erlan (30), salah satu pengguna jalan yang melintasi jalinsum yang rusak tersebut. Dia mengaku sudah paham kondisi jalan rusak tersebut, karena dalam sepekan melalui jalinsum ruas Desa Pasuruan—Desa Kekiling itu sampai 4 kali.

"Jalan rusak itu memang rawan kecelakaan dan aksi kejahatan saat malam hari lantaran minim lampu penerangan," kata dia saat ditemui di SPBU Simpang Palas.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait