Tewasabk

Keluarga Masih Menunggu Kedatangan Jenazah Hasan Apriadi

( kata)
Keluarga Masih Menunggu Kedatangan Jenazah Hasan Apriadi
Suasana rumah duka di di Pemangku Sukamaju Pekon Rawas Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat. Yon Fisoma

KRUI (Lampost.co) -- Keluarga masih menunggu kedatangan jenazah Hasan Apriadi (20), anak buah kapal (ABK) yang ditemukan tewas dalam boks pendingin atau freezer kapal ikan Tiongkok. Tampak kabut kesedihan menyelimuti para penghuni rumah yang beralamat di Pemangku Sukamaju Pekon Rawas Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat itu.

Terlihat terpal biru dipasang di halaman rumah, dan jejeran kursi saat lampost.co menyambangi kediaman orang tua Hasan Apriadi, Gunawan Sukur beserta istrinya, Sabtu, 11 Juli 2020, sekitar pukul 10. 00 wib.

Baca juga: Jenazah ABK Asal Lampung di Kapal Tiongkok dalam Proses Otopsi

Gunawan mengaku sedih, dan terpukul mendengar kabar kematian anak pertamanya tersebut. Ia meminta Lampost.co untuk bertanya dengan Peratin (kepala desa) Pekon Rawas terkait kondisi dan informasi tentang jenazah anaknya saat ini.

"Mungkin kalian tahu perasan saya saat ini. Ia (Hasan) masih di Batam belum bisa kami lihat. Jadi belum bisa jawab, kalau ada pertanyaan tanya saja sama Peratin, sudah saya serahkan dengannya," ujarnya sembari duduk di lantai rumahnya beralas tikar.

Menurutnya, keluarga baru mengetahui keberadaan jenazah Hasan saat ini masih di Batam.

"Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, anak ku itu adalah titipan Mu. Saya minta kepada Allah perlihatkan kepada saya dimana anak saya sekarang," kata Gunawan yang terlihat lesu seakan menahan kesedihan.

Sambil terbata, Gunawan, menambahkan anaknya Hasan Apriadi yang biasa disapa sehari-hari dengan panggilan Yadi, merupakan anak pertama dari lima bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Hasan baru lulus dari SMKN 1 Pesisir Tengah pada 2019 lalu sebelum bekerja di kapal. Ia juga pernah bekerja di Krui.

"Pertama kali kerja di diler Honda sekitar dua bulan bekerja disitu, sejak ia tamat sekolah. Baru kemudian kerja di kapal," kata Gunawan.

Sementara itu Siti Solehah (45), ibu dari Agus setiawan, rekan Hasan yang bekerja di kapal yang sama namun selamat, mengaku Hasan dan Agus masih saudara. Sehingga saat ada lowongan kerja berlayar yang ditawarkan, mereka berdua sepakat untuk melamar dan bersama bekerja pada satu kapal.

"Mereka berdua dapat informasi lowongan dari sepupunya Lek Gun (orang tua Hasan Apriadi). Berangkatnya dari kampung sekitar Oktober 2019, dua bulan ikut pelatihan Diklat di Tegal, dan sekitar Januari 2020, pas malam takbiran Idul Fitri saya dikabari Agus mereka sudah terbang untuk kerja," ujarnya.

Setelah itu, lanjutnya, sudah tidak ada kabar sama sekali. Tiba-tiba keluarga mendapat kabar jika Hasan meninggal dunia, sementara Agus selamat.

"Niat mereka berdua kan kalau berhasil akan buat rumah untuk modal nikah. Kalau seperti ini saya berharap mereka pulang ke rumah semua saja. Katanya semuanya ada 10 orang mereka kerja di kapal cumi. Agus sama Hasan yang dari Lampung. Sedangkan delapan kawannya yang lain dari Jawa," kata Siti.

Peratin Pekon Rawas Benzar Bunyamin, saat dihubungi melalui telepon mengatakan, pihaknya saat ini mengupayakan agar jasad almarhum Hasan dapat segera dipulangkan secepatnya.

"Kami sudah koordinasi dengan perusahaan yang menyalurkan almarhum dan asosiasi BP2MI. Sudah kami hubungi mereka sudah ada itikad baik memulangkan jenazah juga pihak imigrasi sudah mengawal. Kami tinggal menunggu jenazah dipulangkan berdasarkan berita dari Batam jenazah sudah bisa dibawa pulang," kata dia.

Menurutnya, pihak keluarga akan menunggu selama lima hari. Jika tidak ada kepastian akan menjemput sendiri ke Batam.

"Kalau memang tidak ada kabar kepastian, mungkin saya sendiri yang akan ke Batam. Perusahaan tenaga kerja yang menyalurkan almarhum yaitu perusahaan Mandiri Tunggal Bahari kantornya di Tegal Jawa tengah. Memang waktu bayinya almarhum kena asma itu indikasi. Kalau ada kekerasan kami gak tahu, itu hasil autopsi di Batam, kami tidak tahu hasilnya, itu mungkin kewenangan pemerintah," jelas Benzar.

EDITOR

Winarko

loading...

Berita Terkait

Komentar