#refleksi#terminal#omicron

Keledai dan Omikron

Keledai dan Omikron
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


MARET 2004 adalah bulan yang paling bersejarah bagi Terminal Rajabasa, Bandar Lampung. Awal dari pembersihan para preman berkeliaran yang membuat angker, sehingga para penumpang takut masuk terminal. Sebab, kejahatannya mulai dari wanita diperkosa hingga tindakan kekerasan, lalu penumpang ditarik-tarik dipaksa naik bus yang bukan tujuannya.

Masyarakat sudah lama mengenal peribahasa “hanya keledai yang akan jatuh ke lubang yang sama dua kali”. Peribahasa ini bisa begitu populer dan telah dinukil berulang-ulang, bukan hanya rakyat di negeri ini saja melainkan penduduk dunia pun mengenal ungkapan ini.

Arti peribahasa itu, jangan melakukan kesalahan sama yang berulang-ulang. Konon, ungkapan ini bermula dari warga Persia yang dipopulerkan orang Barat. Pendapat lain mengatakan stereotip keledai bodoh ada sejak zaman Yunani kuno. Tidak heran ungkapan ini lantas mendunia.

Bahkan, sejumlah ahli hewan pernah menelaah ihwal peribahasa ini. Artinya hewan keledai dianggap tidak sebodoh yang diperibahasakan. Dus, peribahasa melegenda itu lantas mendapat sedikit revisi. “Keledai saja tidak jatuh di lubang yang sama dua kali.” Artinya sih tetaplah sama.

Terlepas dari akurasi peribahasa itu, dan apakah keledai memang amat bodoh atau sedikit bodoh, yang jelas perumpamaan ini punya makna mendalam. Artinya perlu hati-hati bertindak-tanduk. Jangan sampai menjadi makhluk ceroboh seperti halnya keledai yang jatuh ke lubang yang sama berkali-kali.

Apa daya, meski pepatah ini sudah ada ratusan atau bahkan ribuan tahun, namanya cerita terpeleset dua kali itu kerap terukir dalam sejarah manusia. Dalam menghadapi ancaman virus corona saja, penduduk dunia sudah menghadapi dua gelombang kasus pandemi Covid-19.

Gelombang pandemi berulang-ulang memang bukan pula hal baru. John Mathews, profesor di University of Melbourne’s School of Population and Global Health, menjelaskan ciri datangnya gelombang pandemi yang ditandai penurunan kasus drastis, lalu tiba-tiba kembali meninggi.

Menurutnya, penduduk dunia di masa lalu pernah menghadapi fenomena serupa. Pada pandemi influenza masa lalu, dunia ini mengenal wabah flu spanyol. Pandemi flu ini terjadi 1918 dan menginfeksi lebih dari 500 juta orang dan membunuh lebih dari 50 juta di seluruh dunia.

Gelombang wabah flu spanyol cukup terkenal lantaran gelombang kedua datang dengan sebaran infeksi  jauh lebih luas dan mematikan di musim gugur. Pandemi itu terjadi setelah beberapa bulan gelombang pertama berlangsung. Gelombang ketiga virus itu pun mewabah di sejumlah negara pada 1919. Sangat mengerikan! Sama seperti wabah Covid-19.

Mathews pun mengatakan pada masa flu spanyol juga sama, gelombang kedua dapat didorong perubahan karakteristik virus atau perubahan perilaku seseorang. Perubahan pada karakteristik virus itu ditengarai oleh berandil besar dalam mendorong adanya gelombang kedua pandemi 1918.

Para ahli terutama ahli epidemiologi mengatakan mutasi virus sejatinya adalah hal alamiah karena itu merupakan upaya virus untuk tetap hidup dan eksis. Kian lama pandemi berlangsung maka kian lambat kekebalan kelompok terbentuk, maka makin banyak kesempatan virus bermutasi.

***

Merujuk data Kementerian Kesehatan, gelombang pertama Covid-19 terjadi pada kurun waktu November 2020—Januari 2021. Pada periode itu, kasus mingguan secara nasional naik empat kali lipat. Mobilitas manusia pada Natal dan Tahun Baru (Nataru) ditengarai menjadi biang keladi.

Gelombang pertama karena terjadi lonjakan kasus luar biasa besar. Pada 27 November—2 November 2020, jumlah kasus baru tercatat 24.932 kasus. Lalu pada 19—25 Januari melonjak drastis hingga 89.052. Setelah itu pada Februari hingga Mei, catatan kasus melandai.

Grafik penambahan kasus Covid-19 di Tanah Air kembali menanjak pada kurun waktu 11—17 Mei 2021 dengan 53.470 kasus baru. Dan gelombang besar pun datang dengan tambahan kasus tujuh kali lipat pada periode 6—12 Juli 2021 dengan torehan 253.600 kasus. Annah kidah!

Gelombang kedua Covid-19 di Indonesia, bahkan seluruh dunia, terjadi lantaran bermutasinya virus corona menjadi berbagai macam varian dengan daya tular dan rusaknya kian besar. Namanya adalah varian baru jenis delta yang dikabarkan datang dari negeri para Pandawa dan Kurawa ditengarai sebagai pemicu utamanya.

Ibarat pepatah lainnya, penduduk dunia termasuk Indonesia telah kehilangan tongkat hingga dua kali. Setelah diterpa gelombang pertama lantas euforia sesaat dan terlena. Hal ini dibayar dengan amat menyakitkan saat gelombang kedua menerjang dengan delta sebagai aktor antagonisnya.

Lantas, setelah dunia mengarungi masa landai pandemi Covid-19 dalam tiga bulan terakhir, muncullah omikron, sebutan baru varian yang sudah bermutasi lebih masif lagi. Varian ini ditengarai lima kali lebih menular dengan dampak infeksi lebih parah dari varian sebelumnya. Dunia pun dicekam ancaman gelombang ketiga.

Anak-anak bangsa tidak ingin kehilangan tongkat untuk ketiga kalinya atau menjadi keledai yang terjerembab pada lubang yang sama untuk ketiga kalinya. Karena itu pula, ingatlah selalu pesan ibu, untuk selalu mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas.

Para ahli epidemiologi dan pakar kesehatan telah menasihati, apa pun minumannya teh botolnya tetaplah protokol kesehatan. Apa pun varian baru Covid-19 yang bermunculan karena penularannya, tetaplah sama dengan cara menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Adanya gelombang pertama dan kedua pandemi ini adalah pengalaman empiris. Fakta tidak terbantahkan yang tidak konsisten menjalankan prokes. Entah karena melandainya angka kasus baru ataukah vaksinasi yang mulai bergulir. Nyatanya rakyat euforia, lengah, dan kembali menderita.

Kapan berakhirnya pandemi ini tidak bisa dipastikan, bahkan ilmu pasti mana pun. Namun, pengalaman dan sejarah dua tahun terakhir baiknya menjadi cerminan dan pembelajaran bersama untuk merefleksikan diri agar tidak kembali salah melangkah di masa pagebluk ini.

Yang jelas, angka statistik terang benderang menggambarkan gelombang kedua lebih dahsyat dari gelombang pertama. Prediksi, para ahli memang demikian. Makin banyak gelombang, makin tinggi pula puncak gelombang lantaran makin ganas dan berbahayanya virus seperti omikron.

Ini fakta! Meningkatkan kewaspadaan adalah keniscayaan. Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan lebih dari 25 negara di seleuruh dunia mengonfirmasi temuan kasus omikron. Paling anyar, Korea Selatan pada Rabu (1/1/2021) mengonfirmasi lima temuan kasus varian baru.

Sudah benar, iktikad pemerintah menuntaskan vaksinasi hingga 70% pada akhir tahun ini setidaknya dosis pertama vaksin Covid-19. Selain tetap konsisten menerapkan prokes, juga upaya memperluas capaian vaksinasi adalah hal krusial yang perlu dikejar. Sehingga omikron tidak merajalela di negeri ini, seperti virus delta yang sangat mematikan terjadi pada Mei—Juni lalu. 

***

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait