Kelaparanyamankemiskinan

Kelaparan Ancam Warga Yaman di Tengah Konflik Kekuasaan

( kata)
Kelaparan Ancam Warga Yaman di Tengah Konflik Kekuasaan
Hashem Mahmoud Atin, bocah 10 bulan di Yaman yang mengalami malnutrisi karena kelaparan. Foto: Sky News


Sanaa (Lampost.co) -- Yaman dalam 'situasi putus asa' saat kelaparan membayangi ratusan ribu orang. Konflik perebutan kekuasaan sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Yaman dikenal sebagai negara miskin tetapi dipenuhi ‘orang-orang dermawan’ yang menerima pengungsi. Kini Yaman membutuhkan solidaritas internasional.

“Yaman berada dalam situasi putus asa karena berada di ambang kelaparan dan ratusan ribu orang menghadapi kelaparan,” ucap Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonio Guterres, seperti dikutip Sky News, Jumat 18 September 2020.

Guterres mengatakan kepada Sky News bahwa dia "sangat khawatir" dengan situasi di negara yang dilanda perang tersebut.

“PBB mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk menunjukkan solidaritas internasional dengan rakyatnya yang murah hati,” ucap Guterres.

Negara ini telah dihancurkan oleh konflik yang berkecamuk sejak 2014 antara pemerintahan Abedrabbo Mansur Hadi dan pemberontak Houthi, yang keduanya mengklaim membentuk pemerintahan resmi.

Pemerintahan Hadi didukung oleh koalisi negara-negara kuat yang dipimpin oleh Arab Saudi tetapi juga didukung oleh Inggris, AS dan Uni Emirat Arab.

Dengan krisis yang ada sekarang diperburuk oleh virus korona, PBB mengatakan lebih dari 20 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan segera karena konflik yang sedang berlangsung. Hampir setengah yang membutuhkan bantuan adalah anak-anak.

Pemerintah Inggris mengatakan kelaparan di Yaman ‘merupakan ancaman pasti’. Sekjen Guterres menambahkan bahwa dunia perlu memobilisasi sumber daya untuk bantuan kemanusiaan, yang sekarang jauh di bawah tingkat yang diperlukan.

“Yaman berada dalam situasi yang sangat dramatis. Konflik perlu diakhiri dengan segera. Semua pihak perlu memastikan bahwa kita bergerak ke proses politik, dan pada saat yang sama perlu memobilisasi sumber daya dan menciptakan kondisi akses untuk mendukung populasi yang berada dalam situasi putus asa,” tegas Guteress.

"Jika saya boleh mengatakan sesuatu, dan saya adalah Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, rakyat Yaman selalu sangat murah hati. Mereka menerima pengungsi dari Somalia datang ke pantai mereka, berbagi sumber daya dengan mereka, bahkan dengan kondisi konflik yang terjadi di Yaman,” sebutnya.

"Dan selalu berbagi apa yang mereka miliki dan apa yang tidak mereka miliki. Orang-orang yang murah hati ini sekarang membutuhkan solidaritas internasional,” Guterres menegaskan.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan Inggris akan memberikan 5,8 juta poundsterling untuk membantu mencegah kelaparan di negara itu.

Dukungan Inggris akan membantu setidaknya 500.000 orang rentan setiap bulan, untuk membeli makanan dan kebutuhan rumah tangga, termasuk sabun dan obat-obatan.

Berbicara di New York pada pertemuan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Raab mengatakan: "Situasi kemanusiaan di Yaman sekarang adalah yang terburuk yang pernah ada, dan ditambah dengan ancaman virus korona, negara itu tidak pernah terlihat lebih mungkin meluncur dalam jurang kelaparan”.

"Kecuali jika donor segera bertindak sekarang dan menepati janji mereka, ratusan ribu orang berisiko meninggal hanya karena kelaparan,” tegas Raab.

Menlu Raab juga menyerukan dukungan untuk rencana mengamankan gencatan senjata yang mengakhiri penderitaan rakyat di Yaman.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait