#PENGANIAYAAN#KEKERASANANAK

Kejiwaan Ibu Penganiaya Anak Kandung Normal

Kejiwaan Ibu Penganiaya Anak Kandung Normal
Konferensi pers penangkapan EW (47), ibu penganiaya dan pemaksa anak jadi juru parkir di Bandar Lampung beberapa hari lalu. (Foto: Lampost.co/Salda Andala)


Bandar Lampung (Lampost.co)-- Polresta Bandar Lampung menyebut tersangka EW yang tega melakukan kekerasan fisik terhadap anak kandungnya tidak mengalami gangguan jiwa (normal). MR (10) mengalami luka sayatan menggunakan silet di sekujur tubuh oleh ibu kandungnya sendiri. Kekerasan fisik itu terjadi sejak dua tahun silam. 

Wakasat Reskrim Polresta Bandar Lampung, Iptu Toni Suherman mengatakan, pihaknya sudah meminta keterangan terhadap EW beberapa hari lalu. Dari hasil keterangan polisi, EW mampu menjawab pertanyaan penyidik secara normal.

"Ditanya-tanya normal, seperti tidak mengalami gangguan jiwa,"katanya, di ruang kerja, Kantor Polresta Bandar Lampung, Kamis, 24 Februari 2022.

Saat ini korban berada di rumah aman untuk dilakukan pemulihan psikologi atau trauma yang dialami. Sebab si anak seharusnya masih menikmati masa bermain bersama teman dan kerabatnya.

"Sudah di rumah aman, di suatu tempat untuk memulihkan trauma dan penyembuhan fisik bekas sayatan," ujar Toni.

Menurutnya, pelaku terancam Pasal 44 Undang-undang RI No.23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga dan dijerat Pasal 80 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014  tentang Perlindungan Anak. Adapun ancaman hukuman minimal limat tahun penjara.

Toni melanjutkan kekerasan fisik terhadap korban dilakukan sejak dua tahun terakhir. Ketika korban yang berprofesi sebagai juru parkir dan pengamen tidak membawa uang sebesar Rp200 ribu, maka akan menerima kekerasan fisik berupa penganiayaan dan sayatan silet di sekujur tubuh.

"Sambil belajar online karena sekarang sedang belajar daring. Sayatan di punggung, jari tangan, telapak tangan juga memar di kaki,"katanya.

Menurut pengakuan pelaku, kekerasan itu terjadi lantaran tidak memiliki uang. Tersangka EW hanya seorang diri dan tidak memiliki pekerjaan. Oleh sebab itu, pelaku menyuruh anaknya untuk bekerja keras mencukupi biaya hidup sehari-hari.

"Untuk memenuhi kebutuhan orang tua, harus membawa uang saat pulang. Kalau tidak membawa uang mendapat kekerasan fisik. Karena korban anak semata wayang," ujarnya.

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait