#intimidasijurnalis

Kejati Lampung Bantah Intimidasi Wartawan

Kejati Lampung Bantah Intimidasi Wartawan
Seorang jurnalis Lampung, Ahmad Amri, diduga mendapatkan intimidasi dari jaksa Kejati Lampung. Lampost.co/Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kejaksaan Tinggi Lampung membatah jaksa Anton Nur Ali, yang disebut menerima uang dari warga yang berperkara, yaitu Desi, agar suaminya mendapatkan vonis ringan.

Korps Adhyaksa juga membatah adanya intimidasi yang dilakukan jaksa Anton terhadap wartawan Ahmad Amri, pada Jumat pagi, 22 Oktober 2021.

Intimidasi itu terjadi saat Amri bertemu dengan Anton di Kejati Lampung. Saat itu jurnalis tersebut menanyakan dugaan penerimaan uang yang dilakukan jaksa tersebut. Namun, Amri justru hendak dilaporkan ke Cyber Polda Lampung, atas tuduhan tak benar.

Kasipenkum Kejati Lampung, I Made Agus Putra, membantah dugaan penerimaan uang yang dilakukan jaksa Anton Nur Ali itu. "Tidak benar, sudah dikroscek," ujarnya.

Namun, pihaknya siap menerima aduan dengan bukti valid dan konkret terkait setoran uang Rp30 juta dengan tujuan meringankan putusan salah satu perkara.

"Kalau ada fakta valid dan kongkret silahkan lapor. Kami akan menerima dan menindaklanjuti," paparnya.

Senada, jaksa Anton Nur Alim, membantah tudingan tersebut dan mengklaim tidak mengintimidasi jurnalis. "Tidak benar itu dan perkara yang ditanyakan Amri juga saya tidak mengerti perkara apa," ujarnya.

Namun, jika informasi tersebut valid, ia mempersilahkan melaporkan dirinya, baik ke internal kejaksaan maupun pihak lain. Ia juga membantah adanya dugaan intimidasi terhadap Amri, mengarahkan adanya ancaman pelanggaran UU ITE.

"Kalau jelas A1 silahkan lapor, jangan memojokkan saya transfer uang Rp30 juta, perkara yang mana, orangnya mana, jangan menjustice saya," paparnya. 

Namun, ia mengancam akan melapor balik, jika tudingan tersebut tidak benar. "Apabila keterangan itu ada sumbernya, saya siap tanggung jawab, tapi kalau tidak ada saya tuntut balik," katanya.  

Sementara itu, Ahmad Amri, mengatakan kejadian itu berawal saat ia akan mengkonfirmasi dugaan oknum jaksa yang menerima uang dari keluarga terdakwa, Desi Sepprilla. 

Berdasarkan, hasil wawancara dengan Desi Seprilla, diketahui jaksa itu meminta sejumlah uang untuk meringankan hukuman suaminya. 

Atas dasar itu, dia mengkonfirmasi kepada Kasipemkum Kejati dan direncanakan pada bertemu siang hari. 

Saat menunggu di ruang pers Kejati Lampung, Amri melihat jaksa tersebut melintas dan hendak keluar dari kantor Kejati, sehingga langsung mengkonfirmasi informasi tersebut.

"Iya ke ruangan, simpan dulu HP dan barang-barang kamu, karena aturannya tidak boleh bawa HP ke dalam ruangan. Enggak bisa ini alat kerja saya," kata Amri meniru percakapan dengan jaksa itu.

Kemudian, ada seorang berpakaian preman mempertegas agar menaruh barang bawaan ke dalam lemari termasuk ponsel dan tas. 

"Sini bapak, handphone dan tas disimpan di loker ini. Bapak bawa kuncinya baru bapak ke atas, aturannya begitu, " kata pria berpakaian preman. 

Kemudian, Ahmad Amri, bersama jaksa ke ruangan lantai dua. Lalu, jaksa tersebut mengaku banyak berteman dengan wartawan. Amri pun tidak diberi sela untuk mempertanyakan dugaan penerimaan uang dari keluarga terdakwa. 

"WA kamu ke saya sudah saya screenshot, dan saya kirim ke petugas Polda Lampung, kamu memojokkan saja, kena UU ITE saya laporkan ke Polda. Sebab dalam WA kamu, bilang saya menyuruh keluarga terdakwa ngirim uang ke saya. Ini 2021, enggak mungkin saya berani begitu. Coba kamu tes ke jaksa lain terkait perkara, kamu mau kirim uang ke Jaksa itu, karena berkaitan dengan perkara pasti enggak berani, kalau jaksanya berani terima uang, saya kasih kamu dua mobil," ujarnya.

Dia menjelaskan, semestinya telepon lebih dahulu dan minta ketemu. "Nanti kalau ada orang yang nelpon kamu, itu orangnya saya. Maaf ini saya mau ke Polda ngurus kasus UU ITE juga. Terserah kamu, saya enggak pandang siapa orangnya kalau saya sudah terusik saya laporkan. Saya bukan jaksa baru kemarin sore, saya juga pernah di LSM, maaf saya buru buru ke Polda," ujar Amri yang menirukan perkataan jaksa tersebut.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait