#beritainternasional

Kecam Pembakaran Al-Qur'an di Swedia, Erdogan: Jangan Harap Bisa Masuk NATO

Kecam Pembakaran Al-Qur'an di Swedia, Erdogan: Jangan Harap Bisa Masuk NATO
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Adem ALTAN / AFP)


Istanbul (Lampost.co) -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Swedia untuk tidak lagi mengharapkan dukungan Ankara untuk bisa bergabung ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), menyusul pembakaran Al-Qur'an politikus Rasmus Paludan di Stockholm akhir pekan kemarin.

Dalam beberapa bulan terakhir, Finlandia dan Swedia mengajukan permohonan untuk bisa masuk ke aliansi NATO. Namun, syarat untuk bisa masuk adalah dukungan dari semua negara anggota, termasuk Turki.

Kecaman Erdogan semakin menjauhkan prospek kedua negara tersebut untuk bergabung ke NATO. Finlandia dan Swedia ingin masuk NATO setelah terjadinya invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Berbeda dari Erdogan, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban berjanji parlemennya akan menyetujui proposal kedua negara Nordik itu bulan depan.

Sejumlah pihak menilai kecaman keras Erdogan dilayangkan demi memperkuat basis pemilih nasionalis jelang pemilihan umum parlemen dan presiden Turki pada Mei mendatang.

"Swedia tidak perlu mengharapkan dukungan dari kami untuk (keanggotaan) NATO," kata Erdogan dalam tanggapan resmi pertamanya terhadap tindakan membakar Al-Qur'an oleh Rasmus Paludan.

Pemerintah Swedia ikut terkena kecaman karena memberi izin kepada Paludan untuk melakukan aksi kontroversialnya tersebut.

"Sudah jelas mereka yang melakukan perbuatan buruk di depan gedung kedutaan kita, tidak perlu mengharapkan kebaikan dari kita terkait permohonan menjadi anggota NATO," kata Erdogan.

Swedia bereaksi dengan sangat hati-hati terhadap pernyataan terbaru dari orang nomor satu di Turki.

"Saya tidak bisa mengomentari pernyataan malam ini. Pertama, saya ingin memahami dengan tepat apa yang dikatakan," kata Menteri Luar Negeri Tobias Billstrom kepada kantor berita Swedia TT.

Sebelumnya, Billstrom mengecam Islamofobia yang terlihat dari aksi Paludan di Stockholm. Ia menegaskan bahwa Swedia memang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, namun bukan berarti mendukung opini yang disampaikan pihak-pihak tertentu di dalamnya.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait