#timnas#AFF#Mimbar

Katastrofi Timnas

Katastrofi Timnas
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. Dok MI


APAKAH kekalahan telak 0-4 Timnas Indonesia atas Thailand sebuah bencana besar? Katastrofi? Banyak yang berpandangan seperti itu. Tapi, berbeda jika dibandingkan dengan kekalahan-kekalahan timnas sebelumnya, kekalahan kali ini tidak terlalu mengguncang.

Berbeda, misalnya, kalah dari Malaysia. Atmosfer kesedihan dan guncangannya serasa gempa berkekuatan 10 Magnitudo. Kekalahan di leg I final Piala AFF kali ini memang menyesakkan, tapi cuma sebentar. Beberapa jam kemudian, mulai banyak yang menertawakan kekalahan, alih-alih menghujat Asnawi Mangkualam Bahar dan kawan-kawan.

Lihatlah ekspresi netizen. Di grup-grup Whatsapp, Instagram, berhamburan meme-meme candaan. Teks-teksnya pun tak kalah lucu, seolah bercanda dalam duka. Ada yang bilang, 'Thailand curang, pake pemain Tithipan' (sambil meng-capture punggung pemain Thailand bernama Tithipan). Ada lagi yang bernada optimistis, 'Ingat saat Barca mengandaskan PSG di Liga Champion: Barca yang kalah 0-4 di leg pertama, menjungkalkan PSG 6-1. Garuda akan melakukannya seperti Barca'.

Publik pecinta bola mulai realistis menyikapi keadaan. Timnas kita 90% diisi skuat muda. Rata-rata usia mereka 23,4 tahun. Termuda di antara 10 tim peserta Piala AFF. Berbeda dengan Thailand, yang rata-rata usia pemainnya 28 tahun. Di timnas kita, hanya Evan Dimas, Fakhruddin Aryanto, dan Dedi Setyawan yang pernah merasakan atmosfer Piala AFF. Di tim Thailand, 90% anggota skuatnya sudah malang melintang di Piala AFF sebelum-sebelumnya.

Dalam analisis para ahli sepak bola, pengalaman atau jam terbang dalam turnamen berkorelasi terhadap mental. Dari peluit panjang kick off hingga peluit panjang akhir babak kedua, mental pemain Thailand sangat kokoh. Mereka bermain rileks dan tenang. Sebaliknya, pemain kita gugup, terutama setelah serbuan di menit-menit awal pertandingan yang berbuah gol.

Maka, para pecinta timnas kita pun sudah merelakan bila tim kebanggaannya kalah. Ya, meskipun ada saja yang menganggap ini sebagai katastrofi, bencana besar. Tragedi bagi timnas karena untuk pertama kalinya kalah 0-4 dari Thailand di sepanjang turnamen Piala AFF.

Di 'piala dunia mini' ini, sudah 13 kali Timnas Indonesia berjumpa Thailand. Indonesia hanya menang sebanyak 3 kali. Sisanya kalah. Kekalahan paling telak sebelumnya ialah di ajang Piala AFF 2000 (masih Piala Tiger). Skornya 4-1 untuk Tim Gajah Perang. Itulah mengapa ada yang menyebutnya 'katastrofi timnas Indonesia'.

Tapi, umumnya katastrofi, ada hikmah yang bisa dipetik. Bahkan, jika pandai menjadikannya pelajaran, tragedi akan membentuk peradaban baru. Tragedi tsunami di Aceh 17 tahun lampau membuat rakyat Aceh terkonsolidasi. Mereka memilih mengakhiri perang saudara, dan memempuh jalan damai. Kiranya, itu pula yang mestinya bisa dipetik Timnas Indonesia untuk jangka panjang.

Syukur-syukur bisa dipetik untuk jangka pendek, di leg kedua nanti malam. Tapi, jangan terlalu berharap. Sebab, melawan timnas Thailand dengan modal margin empat gol bukan perkara gampang. Hanya keajaiban layaknya remontada Barcelona mengalahkan Paris Saint-Germain (PSG) di babak 16 besar Liga Champions 2017. Kala itu, Barcelona kalah 0-4 dari PSG pada leg pertama. Tetapi, pasukan Luis Enrique mampu membalas kemenangan 6-1 di Camp Nou.

Persoalannya, timnas Indonesia bukanlah Barca. Meskipun, Thailand juga bukan PSG. Selain itu, semenjak Piala AFF bergulir (dulu bernama Piala Tiger) mulai 1996, belum ada satu pun keajaiban terjadi pada partai final. Sejak Piala AFF menggunakan format dua leg, belum ada remontada yang diiringi kisah-kisah ajaib seperti Barcelona kontra PSG.

Karena itu, lebih realistis menyikapi katastrofi timmas kali ini ialah dengan menjadikannya titik balik. Menata diri untuk even-even berikutnya. Masih ada Sea Games dan kualifikasi Piala Asia di tahun 2022 ini. Ada pula Piala Dunia U-20 tahun depan. Di ajang ini, Indonesia menjadi tuan rumah. Kita tentu tidak ingin sekadar sukses jadi tuan rumah, tapi timnya menjadi bulan-bulanan.

Piala Dunia U-20 merupakan panggung raksasa mengasah talenta-talenta muda untuk menjadi bintang terang di masa depan. Messi, Ronaldo, Maradona merupakan manusia-manusia 'ajaib' yang lahir dari ajang tersebut. Bukan mustahil, dari Piala Dunia U-20 nanti, nama Ronaldo Kwateh dan Marselino Ferdinand, dua anak bangsa berusia 17 tahun yang jadi wonderkid Indonesia, bakal bersinar terang.

Mari nikmati leg kedua final Piala AFF nanti malam dengan rileks. Tidak usah terlalu tegang. Jangan terlalu berharap keajaiban, walau bola tetap bundar. Pasang sikap optimisme realistis. Agar jika gagal tidak terlalu sakit, lalu melempar pesawat televisi, marah-marah, lalu tensi meninggi. Seperti kata pelatih Sin Tae-yong, "Kita masih punya waktu." *****

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait