#covid-19#viruskorona#viruscorona

Kasus Positif Menurun 4,5%, Satgas Covid Pusat Meluncurkan Sistem Perubahan Perilaku

( kata)
Kasus Positif Menurun 4,5%, Satgas Covid Pusat Meluncurkan Sistem Perubahan Perilaku
Koordinator Tim Pakar dan Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. Istimewa


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perkembangan Covid-19 di Indonesia cenderung menurun dibandingkan pekan sebelumnya dengan adanya penurunan 4,5% kasus positif. Untuk itu, perlu dijaga penurunan kasus positif setiap minggunya.

Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan perlu perhatian khusus pada lima besar provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi pada pekan ini, yaitu Riau, Jawa Barat, Banten, Kepulauan Riau, dan Jawa Tengah.

"Saya selalu menekankan bagi daerah yang masih masuk lima besar diminta segera melakukan evaluasi terkait penerapan protokol kesehatan di masyarakat. Jangan berlomba-lomba masuk lima besar kasus positif karena ini bukanlah prestasi," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 27 Oktober 2020.

Kesembuhan harus terus dijaga agar jumlah kasus sembuh Covid-19 terus bertambah. "Kami mengapresiasi provinsi yang terus meningkatkan angka kesembuhannya, seperti lima provinsi dengan kenaikan kesembuhan tertinggi di Indonesia, yakni Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, dan Jambi," katanya

Pandemi tidak mengenal kata libur sehingga meskipun di masa liburan yang akan dihadapi bersama sebentar lagi, pemerintah daerah dan masyarakat harus tetap waspada dan bekerja sama untuk tidak menimbulkan kasus baru dan meningkatkan perawatan Covid-19 agar seluruhnya bisa menjadi sembuh.

Dalam penanganan Covid-19 telah diluncurkan sebuah inovasi oleh Satgas Covid-19 dari bidang data dan IT dan tim pakar penanganan untuk melakukan monitoring perubahan perilaku terkait kedisiplinan protokol kesehatan. Inovasi ini dikenal sebagai sistem bersama lawan Covid-19 perubahan perilaku.

Sistem ini dirancang untuk menghasilkan data yang real-time, terintegrasi, sistematis, dan sistem yang melibatkan koordinasi antarlintas sektor. "Melalui sistem ini petugas di lapangan dapat memasukkan data berbagai pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan masyarakat di lokasi-lokasi pengawasan secara real-time," ujarnya.

Selanjutnya, data yang dimasukkan akan diolah menjadi data statistik untuk mengetahui lokasi atau area terbanyak dengan lokasi geografis ditemukannya pelanggaran protokol kesehatan. Data statistik ini nantinya dapat digunakan mengoptimalisasi pelaksanaan operasi UTC.

Salah satu fitur yang terdapat dalam sistem bersama lawan Covid-19 atau BLC adalah questioner untuk melaporkan kerumunan yang terjadi dan juga memonitor kepatuhan institusi terhadap protokol kesehatan.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait