#beritalampung#beritabandarlampung#bully

Kasus Bully di MAN 1 Bandar Lampung, Pihak Sekolah Klaim Sudah Ekstra Menengahi Perkara

Kasus <i>Bully</i> di MAN 1 Bandar Lampung, Pihak Sekolah Klaim Sudah Ekstra Menengahi Perkara
Waka Kesiswaan MAN 1 Bandar Lampung, Joko. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co): MAN 1 Bandar Lampung angkat bicara terkait kasus perundungan (bully) terhadap IM (16) yang dilakukan oleh sesama teman sekolahnya. Akibat kekerasan fisik tersebut korban mengalami pembekuan darah di kepala.

Kepala MAN 1 Bandar Lampung, Lukman Hakim membenarkan peristiwa penganiayaan yang melibatkan para siswa setempat. Meski demikian, insiden itu murni terjadi di luar lingkungan sekolah.

Menurut Lukman pihak sekolah sudah ekstra menegahi perkara ini agar tidak sampai ke kepolisian. Bahkan musyawarah antara wali korban dan pelaku sudah dilakukan sebanyak tujuh kali tapi masih tidak menemui titik terang atau buntu.

"Kita sudah beberapa kali mediasi, sebab kami sadar mereka anak-anak kita semua untuk sama-sama mencari solusi. Masa depan mereka masih panjang. Tapi lagi-lagi pertemuan itu mentok, sampai sekarang belum menemui titik terang," katanya, Senin, 31 Oktober 2022.

Baca juga: Kakek Diduga Sakit TBC Dijemput Paksa karena Enggan Berobat

Lukman mengatakan pihak sekolah sudah berupaya memberikan uang untuk biaya pengobatan anaknya sebagai bentuk tali asih. Tapi pihak keluarga korban menolaknya.

"Di pertemuan yang keempat lancar. Pertemuan kelima kami pakai utusan dan sampai ketujuh kali pertemuan tidak membuahkan hasil. Hingga saat ini tidak bisa dikontak. Tapi kami tetap berupaya terus untuk mencari solusi," katanya.

Sementara itu, Wakil Kesiswaan MAN 1 Bandar Lampung Joko mengatakan pascakejadian pihak sekolah sudah melakukan musyawarah internal untuk menentukan saksi kepada kedua belah pihak antara korban dan pelaku.

Dari hasil musyawarah itu, mendapat tiga opsi. Opsi pertama keenam pelaku dikeluarkan dari sekolah, opsi kedua korban di pindahkan dari sekolah, dan opsi terakhir semua pelaku dan korban tetap sekolah dengan pengawasan ekstra.

"Kami ambil kesimpulan opsi ketiga semuanya tetap sekolah karena memikirkan masa depan mereka wajib belajar sembilan tahun dan kami akan awasi ekstra dan kami bina agar komunikasi kedua belah pihak harmonis kambali," katanya.

Sebelumnya, seorang siswa berinisial IM (16) mengalami depresi berat karena menjadi korban bully hingga kekerasan fisik oleh teman sekolahnya sendiri.

Kejadian bully yang dialaminya pada 20 September 2022. Akibatnya, kepala IM mengalami pembekuan darah, tulang hidung miring hingga tulang lunak kuping patah dan divonis dokter cacat permanen.

Orang tua korban, Nurhasanah, menceritakan awalnya IM datang ke indekos teman-temannya yang tak jauh dari sekolah dengan berjalan kaki.

"Anak saya ke sana pakai seragam sekolah dan tas. Sampai di kosan temannya itu tas dia diperiksa bawa rokok apa enggak terus disuruh masuk kosan sama mereka," katanya, Sabtu, 29 Oktober 2022.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait