#covid-19#korona

Kasus Aktif Gelombang Ketiga Diprediksi Mencapai 400 Ribu

Kasus Aktif Gelombang Ketiga Diprediksi Mencapai 400 Ribu
Covid-19. Ilustrasi


Jakarta (Lampost.co) -- Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 membuat modeling skenario gelombang ketiga covid-19 di Indonesia. Hasilnya, puncak kasus aktif covid-19 diprediksi mencapai 400 ribu bila gelombang ketiga terjadi di akhir 2021.

Prediksi itu dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pembelajaran mesin (machine learning). Hasil analisis ini diharap diperhatikan semua pihak.

“Kami masukkan variabel-variabel yang mungkin berpengaruh, seperti mobilitas dan kepatuhan protokol kesehatan (prokes),” kata anggota Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, dalam telekonferensi di Jakarta, Senin, 29 November 2021.

Menurut dia, pihaknya juga memasukkan kondisi covid-19 terkini di Indonesia, mulai dari penambahan kasus hingga jumlah kasus aktif. Satgas menemukan empat skenario. 

Pertama, skenario saat kekebalan kelompok terbentuk, mobilitas terjaga, dan tidak ada varian baru. Hasilnya, Indonesia tidak mengalami gelombang ketiga. 

Pada skenario kedua, kekebalan kelompok belum terbentuk, mobilitas tinggi, dan kepatuhan prokes cukup baik. Hasilnya, Indonesia bisa mengalami gelombang ketiga dengan puncak kasus aktif mencapai 70 ribu.

Skenario berikutnya ialah kekebalan kelompok belum terbentuk, mobilitas tinggi, dan kepatuhan prokes rendah. Puncak kasus aktif diramalkan mencapai 260 ribu saat gelombang ketiga. 

Skenario keempat, yakni kekebalan kelompok belum terbentuk, mobilitas tinggi, kepatuhan rendah, dan muncul varian baru yang lebih menular. Tingkat penularan yang diinput 40 hingga 50 persen. Dewi mengeklaim skenario tersebut dibuat sebelum muncul temuan varian omicron. 

“(Puncak kasus aktif) naik di kisaran 400 ribu,” papar Dewi.

Meski begitu, Dewi menyebut prediksi 400 ribu kasus aktif tidak setinggi puncak gelombang kedua pada Juli 2021. Pasalnya, cakupan vaksinasi sudah makin luas dibanding Juli lalu.

 

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait