#beritalampura#penyalahgunaanwewenang

Kades Kamplas Diduga Salahgunakan Wewenang

( kata)
Kades Kamplas Diduga Salahgunakan Wewenang
Kabag Hukum Setdakab Lampura, Hendri. Lampost.co/Fajar Nofitra

Kotabumi (Lampost.co): Indikasi pemotongan dan tidak dibayarnya penghasilan tetap (Siltap) aparatur Desa Kamplas, Kecamatan Abung Barat, Lampung Utara, sarat akan penyalahgunaan wewenang kepala desa beserta kroninya. 

Pasalnya, selama satu tahun Siltap aparatur Desa Kamplas dibayarkan tak sesuai atau kurang bayar Rp600 ribu per bulannya. Hali itu dilakukan dengan dalih membayar pajak serta pengeluaran desa lainnya. Bahkan selama dua bulan terakhir, hak honor aparatur Desa Kamplas tidak dibayarkan.

"Ini kalau kami lihat ada indikasi penyalahgunaan oleh Kades beserta kroninya dalam menjalankan pemerintahan. Apalagi surat pengangkatan mereka (para kaur desa, red) atau setingkat kasi di kelurahan tak pernah diterima," kata Kabag Hukum Setdakab Lampura, Hendri, diruangannya, Jumat, 19 Juni 2020.

Sebelumnya aparat desa dan masyarakat Desa Kamplas mengeluhkan pemotongan Siltap atau intensif sebesar Rp600 ribu per bulan selama satu tahun belakangan. Setingkat kasi misalnya, seharusnya menerima Rp1,950 juta per bulan hanya menerima Rp1,350 juta per bulan dengan dalih pemotongan pajak. 

"Jadi dikemanakan sisanya. Kalau dihitung dari jumlah Siltap yang kami terima itu tidak sebesar dikatakan. Kalau ditanya ada saja alibi ngelesnya. Kami kesalnya juga mendengarnya," kata salah satu aparatur Desa Kamplas.

Sehingga, kata dia, hal demikian cukup memberatkan. Apalagi di tengah pendemi covid-19 tahun ini. Selain itu, segala bentuk pekerjaan yang seharusnya melibatkan aparatur desa tak dilakukan. Hanya segelintir orang di Desa Kamplas yang masih terhitung kerabat dekat atau kelompok kepala desa setempat.

"Jadi kalau orang sini menyebutnya kocok bekem atau manajemen tusuk sate. Semua dilakukan oleh kroni dan kerabatnya, sementara kami tak dilibatkan," kata dia.

Belum lagi instensif guru mengaji dan marbut tidak pernah direalisasikan. Padahal itu telah menjadi program yang ada di Desa Kamplas, sehingga menimbulkan tanda tanya bagi warga desa setempat.
 

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar